KELAS XI : BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN DAN ETOS KERJA

B. Kompetisi dalam Kebaikan

Hidup  adalah  kompetisi untuk  menjadi  yang  terbaik, dan  juga  untuk  meraih  cita-cita yang  diinginkan.  Namun sayang,  banyak  orang  terjebak pada  kompetisi  yang  hanya memperturutkan  hawa  nafsu duniawi  dan  jauh  dari  suasana robbani. Kompetisi  yang hanya  memperturutkan  hawa nafsu,  contohnya  kompetensi mengumpulkan  harta  kekayaan atau  memperebutkan  jabatan dan  kedudukan.  Semuanya  bak fatamorgana,  indah  menggoda,  tetapi  sesungguhnya  tiada.  Bahkan,  tak  jarang dalam kompetisi diiringi “suudhan” buruk sangka, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah Swt. Lebih merugi lagi jika rasa iri dan riya ikut bermain dalam kompetisi tersebut.

Lalu,  bagaimanakah  selayaknya  kompetisi  bagi  orang-orang  yang  beriman? Allah Swt. telah memberikan pengarahan bahkan penekanan kepada orang-orang beriman untuk berkompetisi dalam kebaikan sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Dan Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan  membawa  kebenaran,  yang  membenarkan  kitab-kitab  yang diturunkan  sebelumnya  dan  menjaganya, maka  putuskanlah  perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah Swt. dan janganlah engkau mengikuti  keinginan  mereka  dengan  meninggalkan  kebenaran  yang telah  datang  kepadamu.  Untuk  setiap  umat  di  antara  kamu,  Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah Swt. menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah Swt. hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah Swt. kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (Q.S. al-Maidah/5: 48)

 

Pada Q.S. al-Maidah/5:48 Allah Swt.  menjelaskan  bahwa  setiap kaum diberikan aturan atau syariat. Syariat  setiap  kaum  berbeda-beda sesuai  dengan  waktu  dan  keadaan hidupnya.  Meskipun  mereka  berbeda-beda, yang terpenting adalah semuanya beribadah dalam rangka mencari ridla Allah  Swt.,  atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Allah  Swt.  mengutus  para  nabi  dan  menurunkan  syariat  kepadanya  untuk memberi petunjuk kepada manusia agar berjalan pada jalan atau arah yang benar dan lurus. Akan tetapi, sebagian dari ajaran-ajaran mereka disembunyikan atau diselewengkan. Sebagai ganti ajaran para nabi, manusia membuat ajaran sendiri yang bersifat khurafat dan takhayul. Surat al-Maidah/5: 48 ini membicarakan bahwa al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Al-Qur’an merupakan pembenar kitab-kitab sebelumnya, juga sebagai penjaga kitab-kitab tersebut. Dengan menekankan terhadap dasar-dasar ajaran para nabi terdahulu, al-Qur’an sepenuhnya memelihara keaslian ajaran itu dan menyempurnakannya.

Akhir ayat ini juga mengatakan, perbedaan syariat tersebut seperti layaknya perbedaan manusia  dalam  penciptaannya,  bersuku-suku,  dan  berbangsa-bangsa.  Semua  perbedaan  itu  adalah  rahmat  dan  untuk  saling  mengenal.  Ayat ini mendorong pengembangan berbagai macam kemampuan yang dimiliki oleh manusia, dan bukan menjadi ajang perdebatan. Semua orang dengan potensi dan kadar kemampuan masing-masing, harus berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan. Allah Swt. senantiasa melihat dan memantau perbuatan manusia dan bagi-Nya tidak ada sesuatu yang tersembunyi.

Mengapa  kita  diperintahkan  untuk  berlomba-lomba  dalam  kebaikan?  Ada beberapa  alasan  mengapa  kita  diperintahkan  untuk  berlomba-lomba  dalam kebaikan, antara lain sebagai berikut.

Pertama,  bahwa  melakukan  kebaikan  tidak  bisa  ditunda-tunda,  dan  harus segera  dikerjakan.  Kesempatan  hidup  sangat  terbatas,  begitu  juga  kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Kematian bisa datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Oleh karena itu, ketika ada kesempatan untuk berbuat baik, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan.

Kedua, untuk berbuat baik hendaknya saling memotivasi dan saling tolong-menolong, Oleh karena itu, kita perlunya berkolaborasi  atau  kerja  sama.   Lingkungan  yang  baik adalah  lingkungan  yang  membuat  kita  terdorong  untuk berbuat  baik.  Tidak  sedikit  seorang  yang  tadinya  baik menjadi rusak karena lingkungan. Lingkungan yang saling mendukung kebaikan akan tercipta kebiasaan berbuat baik secara istiqamah (konsisten).

Ketiga,  bahwa  kesigapan  melakukan  kebaikan  harus didukung dengan kesungguhan.

Allah Swt. bersabda:

Artinya: “Dan tolong-menolonglah  kamu  dalam  (mengerjakan)  kebajikan dan  takwa,  dan jangan tolong-menolong dalam  berbuat  dosa  dan permusuhan...” (Q.S. al-Maidah/5: 2)

Langkah  awal  untuk  menciptakan  lingkungan  yang  baik  adalah  dengan memulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan dari sekarang. Kita harus memulai dari diri sendiri dan keluarga. Sebuah bangsa, apa pun hebatnya secara teknologi, tidak  akan  pernah  bisa  tegak  dengan  kokoh  jika  pribadi  manusia  dan  keluarga yang ada di dalamnya sangat rapuh.

C. Etos Kerja

Sudah menjadi kewajiban manusia untuk berusaha memenuhi kebutuhan dan kepentingan  dalam  kehidupannya.  Seorang  muslim  haruslah  menyeimbangkan antara  kepentingan  dunia  dan  akhirat.  Tidak  semata  hanya  berorientasi  pada kehidupan  akhirat  saja,  melainkan  juga  harus  memikirkan  kepentingan kehidupannya  di  dunia.  Untuk  menyeimbangkan  antara  kehidupan  dunia  dan akhirat, wajiblah seorang muslim untuk bekerja.

Bekerja dalam berbagai bidang, Seseorang  yang  bekerja  layak  untuk mendapatkan  predikat  yang  terpuji,  seperti  potensial,  aktif,  dinamis,  produktif atau profesional, karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”,  ia  memerlukan  ruh  (spirit).  Oleh  karena  itulah, al-Qur’an diturunkan sebagai spirit hidup, sekaligus sebagai nur (cahaya) yang tak kunjung padam agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat.

Dalam al-Qur’an maupun  hadis,  ditemukan  banyak  literatur  yang memerintahkan  seorang  muslim  untuk  bekerja  dalam  rangka  memenuhi  dan melengkapi kebutuhan duniawinya. Salah satu perintah Allah Swt.kepada umatNya untuk bekerja termaktub dalam Q.S. at-Taubah/9:105 berikut ini.

Artinya:  “Dan  katakanlah,  “Bekerjalah  kamu,  maka  Allah  akan  melihat pekerjaanmu,  begitu  juga  rasul-Nya  dan  orang-orang  mukmin,  dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. at-Taubah/9: 105)

 

Q.S.  at-Taubah/9:105  menjelaskan,  bahwa  Allah  Swt. memerintahkan  kepada  kita  untuk semangat  dalam  melakukan  amal saleh  sebanyak-banyaknya.  Allah Swt.  akan  melihat  dan  menilai amal-amal tersebut. Pada akhirnya, seluruh manusia akan dikembalikan kepada Allah Swt. dengan membawa amal perbuatannya masing-masing.

Mereka  yang  berbuat  baik  akan diberi pahala atas perbuatannya itu. Mereka yang berbuat jahat akan diberi siksaan atas perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

Sebutan  lain  dari  ganjaran  adalah  imbalan  atau  upah  atau Compensation. Imbalan dalam konsep Islam menekankan pada dua aspek, yaitu dunia dan akhirat. Q.S. at-Taubah/9: 105 juga menjelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kita untuk bekerja, dan Allah Swt. pasti membalas semua yang telah kita kerjakan. Hal yang perlu diperhatikan dalam ayat ini adalah penegasan Allah Swt. bahwa motivasi atau niat bekerja itu harus benar.

Umat  Islam  dianjurkan  agar  tidak  hanya  merasa  cukup  dengan  melakukan “tobat” saja, tetapi harus dibarengi dengan usaha-usaha untuk melakukan perbuatan terpuji yang lainnya. Perbuatan-perbuatan terpuji itu seperti menunaikan zakat, membantu  orang-orang  yang  membutuhkan  pertolongan,  menyegerakan  untuk mengerjakan ­alat, saling menasihati teman dalam hal kebenaran dan kesabaran, dan  masih  banyak  lagi.  Semua  itu  dilakukan  atas  dasar  taat  dan  patuh  kepada perintah Allah Swt. dan yakin bahwa Allah Swt. pasti menyaksikan itu.

Ayat ini pun berisi peringatan bahwa perbuatan mereka itu pun nantinya akan diperlihatkan kelak di hari kiamat. Dengan demikian, akan terlihatlah kebajikan dan kejahatan yang mereka lakukan sesuai amal perbuatannya. Bahkan, di dunia ini pun sudah sering kita saksikan, bagaimana gambaran orang-orang yang berbuat jahat  seperti  pencuri,  penipu,  koruptor,  dan  lain  sebagainya. Banyaknya  berita tentang korupsi, dan bagaimana seorang koruptor dipertontonkan di ruang publik. Ini menandakan bahwa di dunia pun perbuatan kita sudah bisa dipertontonkan. Apalagi kelak di akhirat yang pasti sangat nyata dan tidak bisa ditutup-tutupi

Artinya: “Dari Miqdam ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak seorang pun yang makan lebih baik daripada makan hasil usahanya sendiri. Sungguh Nabi Daud as. makan hasil usahanya.” (H.R. Bukhari)

Sekian materi hari ini, untuk absensi silahkan klik di sini..

dan untuk tugas bisa cek di Google Classroom masing-masing. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUMBER HUKUM ISLAM (AL-QUR'AN)