KELAS X : Meneladani Perjuangan Rasulullah Saw di Mekah (Bagian 2)

B. Strategi Dakwah Rasululah saw. di Mekah

Dalam  mendakwahkan  ajaran-ajaran Islam  yang  sangat  fundamental dan universal,  Rasulullah  saw.  tidak  serta merta  melakukannya  dengan  tergesa-gesa. Rasulullah  saw. mengerti  benar  bagaimana kondisi  masyarakat  Arab  saat  itu  yang bergelimang  dengan  kemaksiatan  dan praktik-praktik  kemunkaran.  Mengubah pola pikir dan kebiasaan-kebiasaan atau adat-istadat  bangsa  Arab  khususnya kaum Quraisy bukanlah perkara mudah. Kebiasaan  yang  telah  dilakukan  secara turun-temurun  sejak  ratusan  tahun silam,  ditambah  lagi  dengan  pengaruh agama Nasrani dan  Yahudi yang  sudah dikenal  lama  bahkan  sudah  banyak penganutnya. 

Ada  dua  tahapan  yang  dilakukan  Rasulullah  saw.  dalam  menjalankan misi dakwah tersebut, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi yang hanya terbatas di kalangan keluarga dan sahabat terdekat dan dakwah secara terang-terangan kepada khalayak ramai.

1. Dakwah secara Rahasia/Diam-Diam (al-Da'wah bi al-sirri)

Agar  tdak  menimbulkan  keresahan  dan  kekacauan  di  kalangan masyarakat  Quraisy,  Rasulullah  saw.  memulai  dakwahnya  secara sembunyi-sembunyi  (al-Da'wah bi al-sirri).  Hal  tersebut  dilakukan mengingat  kerasnya  watak  suku  Quraisy  dan  keteguhan  mereka berpegang  pada  keyakinan  dan  penyembahan berhala.  Pada  tahap ini, Rasulullah saw. memfokuskan dakwah Islam hanya kepada orang-orang terdekat, yaitu keluarga dan para sahabatnya. Rumah Rasulullah saw  (Dārul  Arqam) dijadikan  sebagai  pusat  kegiatan  dakwah.  Di tempat itulah, ia menyampaikan risalah-risalah tauhid dan ajaran Islam lainnya yang diwahyukan Allah Swt. kepadanya. Rasulullah saw. secara langsung  menyampaikan  dan  memberikan  penjelasan  tentang  ajaran Islam  dan  mengajak  pengikutnya  untuk  meninggalkan  agama  nenek moyang mereka, yaitu dari menyembah berhala menuju penyembahan kepada Allah Swt. Karena sifat dan pribadinya yang sangat terpercaya dan terjaga dari hal-hal tercela, tanpa ragu para pengikutnya, baik dari kalangan keluarga maupun para sahabat menyatakan ketauhidan dan keislaman mereka di hadapan Rasulullah saw.

Orang-orang  pertama  (as-sābiqunal  awwalun)  yang  mengakui kerasulan  Nabi  Muhammad  saw.  dan  menyatakan  keislamannya adalah  Siti  Khadijah  (istri),  Ali  bin  Abi Thalib  (adik  sepupu),  Zaid  bin Haritsah (pembantu yang diangkat menjadi anak), dan Abu Bakar Shiddiq (sahabat). Selanjutnya secara perlahan tetapi pasti, pengikut Rasulullah saw.  makin  bertambah.  Di  antara  mereka  adalah  Ustman  bin  'Affan, Zubair bin Awwam, Said bin Abi Waqas, Abdurrahman bin ‘Auf, Taha bin  Ubaidillah,  Abu  Ubaidillah  bin  Jarrah,  Fatimah  bin  Khattab  dan suaminya Said bin Zaid al-Adawi, Arqam bin Abil Arqam, dan beberapa orang lainnya yang berasal dari suku Quraisy. 

Bagaimana ajaran Islam dapat diterima dan dianut oleh mereka yang sebelumnya terbiasa dengan adat-istadat masyarakat Arab yang begitu mengakar kuat? Bagaimana mereka meyakini agama baru yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagai agama yang paling benar dan sempurna kemudian  menjadi  pemeluknya?  Bagaimana  pula  reaksi  orang-orang yang  mengetahui  bahwa  mereka  telah  meninggalkan  agama  nenek moyang, yaitu menyembah berhala? 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya adalah seperti berikut :

1)  Pribadi Rasulullah saw. yang begitu luhur dan agung. Tidak pernah ia melakukan hal-hal yang tercela dan hina. Ia adalah pribadi yang sangat  jujur  dan  amanah  (al-Amin),  sabar,  bijaksana,  dan  lemah lembut dalam menyampaikan ajakan serta ajaran Islam.

2)  Ajaran Islam yang rasional, logis, dan universal, menghargai hak-hak asasi manusia, memberikan hak yang sama, keadilan, dan kepastian hidup setelah mati.

3)  Menyempurnakan  ajaran-ajaran  sebelumnya,  yaitu  ajaran-ajaran yang  dibawa  oleh  para  rasul  terdahulu  berupa  penyembahan terhadap  Allah  Swt.,  berbuat  baik  terhadap  sesama,  menjaga kerukunan, larangan perbuatan tercela seperti membunuh, berzina, dan lain sebagainya.

4)  Kesadaran akan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan lama yang begitu jauh dari nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Berdakwah secara diam-diam atau rahasia (al-Da'wah bil sirri) ini dilaksanakan Rasulullah saw. selama lebih kurang tiga tahun. Setelah memperoleh pengikut dan dukungan dari keluarga dan para sahabat, selanjutnya Rasulullah saw. mengatur strategi dan rencana agar ajaran Islam dapat diajarkan dan disebarluaskan secara terbuka.

2. Dakwah secara terang-terangan (al-Da'wah bi al-Jahr)

Dakwah  secara  terang-terangan  (al-Da'wah bi al-Jahr)  dimulai ketika Rasulullah saw. menyeru kepada orang-orang Mekah. Ia berdiri di  atas  sebuah  bukit  dan  berteriak  dengan  suara  lantang  memanggil mereka. Beberapa keluarga Quraisy menyambut seruannya. Kemudian, ia berpaling kepada sekumpulan orang sambil berkata, “Wahai orang-orang!  Akankah  kalian  percaya  jika  saya  katakan  bahwa  musuh Anda  sekalian  telah  bersiaga  di  sebelah  bukit  (Shafa)  ini  dan  berniat menyerang  nyawa  dan  harta  kalian?”  Mereka  menjawab,  “Kami  tak mendengar  Anda  berbohong  sepanjang  hayat  kami.”  Ia  lalu  berkata, Wahai  bangsa  Quraisy͊  Selamatkanlah  dirimu  dari  neraka.  Saya  tak dapat  menolong  Anda  di  hadapan  Allah  Swt.  Saya  peringatkan  Anda sekalian akan siksaan yang pedih!” Ia menambahkan, “Kedudukan saya seperti penjaga, yang mengamati musuh dari jauh dan segera berlari kepada kaumnya untuk menyelamatkan dan memperingatkan mereka tentang bahaya yang akan datang.”

Seiring  dengan  itu,  turun  pula  wahyu  Allah  Swt.  agar  Rasulullah saw.  melakukannya  secara  terang-terangan dan terbuka. Mengenai hal tersebut, Allah Swt. berfrman, yang artinya: "Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu)  dan  berpalinglah  dari  orang  yang  musyrik." (Q.S.  al-Ḥijr/15:94).

Berdasarkan  ayat-ayat  di  atas, Rasulullah saw. yakin bahwa sudah saatnya  ia  dan  para  pengikutnya untuk  menyebarluaskan  ajaran Islam  secara  terbuka  dan  terang-terangan.  Dengan  dukungan  istrinya  Siti Khadijah,  paman  yang setia  membelanya,  yaitu  Abu Thalib,  serta  para  sahabat  dan pengikutnya  yang  setia  ditambah pula  dengan  keyakinan  bahwa Allah Swt. senantasa menyertai, dimulailah dakwah suci ini. Pertama dakwah  dilakukan  kepada  sanak  keluarga,  kemudian  kepada kaumnya, dan penduduk Kota Mekah yang saat itu penyembahannya kepada berhala begitu kuat. 

Dari  kalangan  keluarga,  ia  mengajak  paman-pamannya  termasuk Abu  Lahab  dan  Abu  Jahal  yang  terkenal  sangat  menentang  dakwah Rasul. Mereka menolak mentah-mentah ajakan Rasulullah saw. dengan mengatakan  bahwa  agama  merekalah  yang  paling  benar.  Penolakan yang  disertai  ejekan,   cemoohan,  hinaan  bahkan  ancaman  tersebut tidak  lantas  membuat  Rasulullah  saw.  berputus  asa  dan  berhenti melakukan  dakwah.  Namun,  beliau  makin  tertantang  untuk  terus mengajak masyarakat memeluk agama tauhid.

Melihat kenyataan tersebut, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan kalangan bangsawan  serta  pemuka  Quraisy  lainnya  meminta  para  penyair-penyair Quraisy untuk mengolok-olok dan mengejek Nabi Muhammad saw. Selain itu, mereka juga menuntut Muhammad untuk menampilkan mukjizatnya seperti apa yang telah ditampilkan oleh Musa as. dan Isa as. Seperti menjadikan bukit Shafa dan Marwah berubah menjadi bukit emas,  menghidupkan  orang  yang  sudah  mati, menghalau  bukit-bukit yang mengelilingi Mekah, memancarkan mata air yang lebih baik dari zam-zam.  Tidak  sampai  di  situ,  bahkan  mereka  mengolok-olok  Nabi dengan  menyatakan  mengapa  Allah  Swt.  tdak  menurunkan  wahyu tentang harga barang-barang dagangan agar mereka dapat berspekulasi. 

Semua  cemoohan,  ejekan,  dan  ancaman  yang  ditujukan  kepada Rasulullah  saw.  dan  para  pengikutnya  makin  melecut  semangat Rasulullah  saw.  dengan  terus  bertambahnya  jumlah  pengikutnya. Pelan tetapi pasti, pengaruh Rasulullah saw. dan ajaran Islam semakin diterima  oleh  masyarakat  Mekah  yang  telah  muak  dengan  praktik-praktik kotor jahiliah.

Kenyataan  ini  mendorong  para  pemuka  Quraisy  datang  kembali kepada Abu Thalib, paman yang selalu membela Rasul. Mereka membawa seorang pemuda yang gagah yang bernama Umarah bin al-Walid bin al Mugirah untuk ditukarkan dengan Nabi Muhammad saw. yang ditolak oleh Abu Thalib. Nabi Muhammad saw. terus saja berdakwah. 

Untuk  yang  ketiga  kalinya,  para  pembesar  Quraisy  datang  kepada Abu Thalib.  Mereka  berkata,  “Wahai  Abu Thalib,  Anda  orang   yang terhormat dan terpandang di kalangan kami. Kami telah meminta Anda untuk menghentikan kemenakanmu, tetapi Anda tidak juga memenuhi tuntutan kami͊ Kami tidak akan tinggal diam menghadapi orang yang memaki  nenek  moyang  kami, tidak  menghormati harapan-harapan kami,  dan  mencaci-maki berhala-berhala kami.  Sebaiknya,  Anda sendirilah yang menghentikan kemenakan Anda, atau jika tidak, kami akan lawan hingga salah satu pihak binasa”.

Sejak  saat  itu,  orang-orang  Quraisy  mencaci-maki  dan  menyiksa kaum  muslimin  tidak  terkecuali  Nabi  sendiri.  Peristwa  yang  paling terkenal adalah penyiksaan Bilal (seorang budak dari Abisinia). Ia dipaksa untuk melepaskan agama, dicambuk, dicampakkan di padang pasir, dan dadanya ditindih dengan batu yang lebih besar dari badannya. Dalam siksaan semacam itu, Bilal tetap teguh dengan keyakinannya; mulutnya terus mengucapkan Ahad, Ahad, ... (Allah Maha Esa, Allah Maha Esa). Bilal terus menerus mengalami siksaan hingga ia dibeli oleh Abu Bakar Siddiq.  Sebagai  orang  kaya,  Abu  Bakar banyak sekali memerdekakan budak di antaranya adalah budak perempuan Umar bin Khattab. 

Meskipun Nabi Muhammad saw. telah mendapat perlindungan dari Banu Hasyim dan Banu Mutalib, ia masih juga mengalami penyiksaan. Ummu Jamil, istri Abu Lahab, melemparkan najis ke depan rumahnya. Demikian juga Abu Jahal yang melemparkan isi perut kambing kepada Nabi Muhammad saw. ketika ia sedang Salat. Intimidasi dan penyiksaan yang  dialami  oleh  Nabi  Muhammad  saw.  dan  para  pengikutnya berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Kian hari kian keji siksaan  yang  mereka  terima.  Namun  demikian,  Nabi  Muhammad saw.  dan  para  sahabatnya  tetap  tabah  dan  terus  memelihara  dan meningkatkan keyakinan dan keimanan mereka.

Demikianlah,  setiap  hari  jumlah  pengikut  Nabi  Muhammad  saw. terus  bertambah.  Kenyataan  ini  menyesakkan  dada  kaum  Quraisy. Oleh karena itu, mereka mengutus Utbah bin Rabi’ah untuk bertemu dengan  Nabi  Muhammad  saw.  Dalam  pertemuannya  dengan  Nabi Muhammad saw. ia mengatakan, “Wahai anakku, dari segi keturunan engkau  mempunyai  tempat  (bermartabat)  di  kalangan  kami.  Kini engkau  membawa  perkara  besar  yang  menyebabkan  kaum  Quraisy terpecah belah. Kini dengarkanlah, kami akan menawarkan beberapa hal.  Kalau  engkau  menginginkan  harta,  kami  siap  mengumpulkan harta kami sehingga engkau menjadi yang terkaya di antara kami. Jika engkau menginginkan pangkat atau jabatan, kami akan angkat engkau menjadi pemimpin kami; kami tak akan memutus satu perkara tanpa persetujuanmu.  Kalau  kedudukan  raja  yang  engkau  cari,  kami  akan menobatkan  engkau  menjadi  raja.  Jika  engkau  mengidap  penyakit syaraf yang tidak dapat engkau sembuhkan, maka akan kami usahakan penyembuhannya  dengan  biaya  yang  kami  tanggung  sendiri  hingga engkau  sembuh”.  Mendengar  tawaran  itu,  Nabi  Muhammad  saw. membacakan surat al-Sajdah kepada Utbah. Ia terdiam dan tertegun serta insaf bahwa ia berhadapan dengan seorang yang tidak gila harta. tidak berambisi pada kekuasaan, dan bukan pula orang yang gila. 

Utbah  kembali  kepada  kaum Quraisy  dan  menceritakan  pengalamannya ketika  bertemu  dengan  Nabi  Muhammad  saw.  serta  menyarankan agar mereka membiarkan Nabi Muhammad saw. berhubungan secara bebas dengan semua orang Arab. Usul Utbah tentu tidak dapat mereka terima, sebab mereka belum merasa puas jika belum mengalahkan Nabi Muhammad  saw.  Oleh  karena  itu,  mereka  meningkatkan  penyiksaan baik kepada Nabi Muhammad saw. maupun kepada para pengikutnya. 

Dengan  semangat  kerasulannya  serta  keyakinan  akan  kebenaran ajaran  Ilahi,  gerakan  dakwah  Rasulullah  saw.  makin  tersebar  luas. Teman, sahabat, bahkan orang yang tidak dikenalnya, baik dari kalangan bangsawan  terhormat  maupun  dari  golongan  hamba  sahaya  banyak yang  mendengar  dan  memahami  ajaran  Islam,  kemudian  memeluk agama  Islam  dan  beriman  kepada  Allah  Swt.  Rasulullah  saw.  makin tegas,  lantang  dan  berani,  tetapi  tetap  komitmen  terhadap  tugas, fungsi, dan wewenangnya sebagai rasul utusan Allah Swt.

Sekian materi hari ini, untuk absensi silahkan klik di sini.

dan untuk tugas bisa cek di Google Classroom masing-masing. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUMBER HUKUM ISLAM (AL-QUR'AN)

KELAS XI : BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN DAN ETOS KERJA