KELAS XI : Hidup Damai dengan Toleransi, Rukun dan Menghindari Tindak Kekerasan (1)
1. Q.S. Yunus/10: 40 - 41
Terjemahan Q.S. Yunus/10:40-41 secara utuh adalah sebagai berikut.
Artinya: Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jika mereka (tetap) mendustakan-mu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Yunus/10: 40 - 41).
Tafsir
Dalam Kitab Tafsir Jalalain, maksud QS. Yunus 40 adalah diantara mereka penduduk Mekkah ada orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an. Hal ini diketahui oleh Allah dan diantara mereka ada pula orang-orang yang tidak beriman kepadanya untuk selama-lamanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Hal ini merupakan ancaman yang ditujukan kepada mereka yang tidak beriman kepadanya.
Lebih rinci, Prof. Dr. Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan maksud kalimat diantara mereka dalam ayat 40 ini adalah kaum musyrikin itu, ada orang yang percaya kepadanya, tetapi menolak kebenaran Al-Qur’an karena keras kepala dan demi mempertahankan kedudukan sosial mereka dan diantara mereka ada juga memang benar-benar serta lahir dan batin tidak percaya kepadanya serta enggan memerhatikannya karena hati mereka telah terkunci. Tuhanmu Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Muhammad, lebih mengetahui tentang para perusak yang telah mendarah daging dalam jiwanya kebejatan yang sedikitpun tidak menerima kebenaran tuntunan ilahi.
Jika mereka menyambut baik ajakanmu, katakanlah bahwa Allah Swt. yang memberi petunjuk kepada kamu dan akan memberi ganjaran kepada kamu dan juga kepadaku. Apabila mereka sejak dahulu telah mendustakanmu dan berlanjut kedustaan itu hingga kini dan masa datang, maka katakanlah kepada mereka, “Bagiku pekerjaanku dan bagi kamu pekerjaanmu, yakni biarlah kita berpisah secara baik-baik
dan masing-masing akan dinilai oleh Allah serta diberi balasan dan ganjaran yang sesuai. Kamu berlepas diri dari apa yang aku kerjakan, baik pekerjaanku sekarang maupun masa datang, sehingga kamu tidak perlu mempertanggungjawabkannya dan tidak juga menambah dosa kamu, dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan, baik yang kamu kerjakan sekarang maupun masa datang, dan tidak juga akan memeroleh pahala atau dosa jika kamu memerolehnya.”
Kemudian menurut Ibnu Katsir, bahwa di antara kaum Nabi Muhammad ada orang-orang yang beriman kepada AlQur’an, mengikuti, dan mengambil manfaat dari apa yang diwahyukan kepadanya. Di samping itu, ada orang-orang yang berkeras kepala tidak mau beriman walaupun ia telah memperoleh keterangan yang tidak dapat membantahnya, bahkan sampai ia mati dan dibangkitkan kembali kelak. Allah yang lebih mengetahui tentang orang-orang perusak yang patut mendapat petunjuk dan yang tersesat selama-lamanya. Dalam ayat 41, Allah Swt. berfrman kepada nabi-Nya: “Jika orang-orang musyrikin itu mendustakan engkau, maka lepaskanlah dirimu daripada mereka dan katakanlah, “Bagiku apa yang kukerjakan dan bagimu apa yang kamu kerjakan. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah dan kamu pun tidak menyembah apa yang kusembah, atau katakanalah kepada mereka sebagaimana Ibrahim berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri terhadap kamu dan terhadap apa yang kamu sembah selain Allah.”
Sedangkan dalam Tafsir yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI disebutkan, Allah Swt. menjelaskan kepada Rasulullah dan pengikut-pengikutnya bahwa keadaan orang musyrikin yang mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an akan terbagi menjadi dua golongan. Segolongan yang benar-benar mempercayai Al-Qur’an dengan ittikad yang kuat dan segolongan lainnya tidak mempercayainya dan terus menerus berada dalam kekafiran. Namun demikian, mereka tidak akan diazab secara langsung di dunia seperti nasib yang telah dialami oleh kaum sebelum Nabi Muhammad Saw. Di akhir ayat dijelaskan bahwa Allah lebih mengetahui tentang orangorang yang membuat kerusakan di bumi, karena mereka mempersekutukan-Nya, menganiaya diri mereka sendiri dan menentang hukum-Nya. Hal itu disebabkan karena fitrah mereka telah rusak. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat siksaan yang pedih.
Sedangkan menurut Tafsir Jalalain, maksud QS.Yunus/10: 41 adalah jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah kepada mereka “Bagiku pekerjaanku dan bagi kalian pekerjaan kalian. Artinya, masing-masing pihak menanggung akibat perbuatan sendiri. Kalian berlepas diri terhadap apa yang
aku kerjakan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan.
Kemudian pada ayat 41 dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah memberikan penjelasan, apabila orang musyrikin itu tetap mendustakan Muhammad Saw., maka Allah memerintahkan kepadanya untuk mengatakan kepada mereka bahwa Nabi Muhammad Saw. berkewajiban meneruskan
tugasnya, yaitu meneruskan tugas-tugas kerasulannya, sebagai penyampai perintah Allah yang kebenarannya jelas, perintah yang mengandung peringatan dan janji-janji serta tuntunan ibadah berikut pokok-pokok kemaslahatan yang menjadi pedoman untuk kehidupan dunia. Nabi Muhammad Saw. tidak diperintahkan untuk menghakimi mereka, apabila mereka tetap mempertahankan sikap mereka yang mendustakan Al-Qur’an dan mempersekutukan Allah.
Masih ayat 41, Ath-Thabari dalam Kitab Tafsirnya Juz 15 menjelaskan sebagaimana dijelaskan oleh Abu Ja’far: Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad SAW: Jika mereka mendustakanmu, Hai Muhammad, yakni orang-orang musyrik, dan mereka menolak risalah yang engkau bawa kepada mereka dari sisi Tuhanmu, maka katakan kepada mereka: “Hai kaumku, untukkulah agamaku dan amalku, dan untukmulah agamamu dan amalmu. Amalmu tidak akan memberi mudharat kepadaku. Amalku pun tidak akan memberi mudharat kepadamu, setiap orang hanya akan dibalas disebabkan amal perbuatannya sendiri, kamu tidak dihukum karena dosa-dosanya. Aku tidak akan dihukum karena perbuatan kamu.”
Ayat Al-Qur’an yang sejalan dengan ayat di atas adalah: “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku (QS. Al-Kāfirūn/109: 6).”
Kemudian juga terdapat dalam ayat lain, yaitu: “Katakanlah, “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kamu perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat(Q.S. Saba’/34: 25)
Dari penjelasan di atas menunjukkan betapa Islam tidak memaksakan nilai-nilainya bagi seorang pun, tetapi memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memilih agama dan kepercayaan yang berkenan di hatinya.
Kemudian dalam hadis Nabi Muhammad Saw. disebutkan.
Artinya: “Dan Sabda Nabi Muhammad Saw.,”Agama yang paling dicintai Allah adalah yang lurus dan toleran (H.R. Ibnu Syaybah dan Bukhari).”
Yang dimaksud al-hanifah al-samhah(lurus dan toleran) adalah amal-amal perbuatan yang jauh dari kebatilan, tidak memberatkan dan tidak pula menyempitkan. Dalam hadis
yang lain redaksinya berbunyi “al-hanifiyyah al-samhah.” (Shahih Bukhari, Juz 1 halaman 22).
Kemudian arti al-samhah adalah al-sahlah (kemudahan), yakni ia dibangun di atas prinsip kemudahan, berdasarkan firman Allah SWT: “Dan Dia tidak menjadikan kesukaran bagi kalian dalam agama ini, millah ayah kalian Ibrahim.” (QS. AlHajj:78).
Sekian materi untuk hari ini, untuk absensi silahkan klik link di bawah ini
Untuk tugas silahkan di cek dalam Kelas Google masing-masing.




Komentar
Posting Komentar