KELAS XI : MENGHORMATI ORANG TUA DAN GURU

1.  Hormati dan Patuhi Orang Tua

Hormat dan patuh kepada   orang tua adalah kewajiban setiap anak. Dalam agama Islam mengajarkan berbakti kepada  orang tua adalah hal yang sangat penting. Istilah lain berbakti kepada  orang tua adalah bir al-walidain.Maksud berbakti, menurut al-Atsari adalah menaati kedua  orang tua dengan melakukan semua apa yang mereka perintahkan selama hal tersebut tidak bermaksiat kepada Allah Swt.

Bukti nyata perhatian Islam terhadap perintah berbakti kepada  orang tua, setidaknya ada empat ayat   Al-Qur’an yang menerangkan tentang perintah berbakti kepada  orang tua disandingkan dengan larangan menyekutukan Allah Swt., di antaranya dalam Q.S. al-Isrā/17: 23-24.

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (Q.S. Al-Isra/17: 23 - 24).

Dari Q.S. al-Isra ayat 23, ada kata qadha, kalau dilihat dari beberapa tafsir mempunyai makna yang berbeda. Misalnya, Ibnu Katsir mengartikan dengan mewasiatkan, sedangkan al-Qurtuby mengartikan dengan memerintahkan, menetapkan, dan mewajibkan.

Secara umum, ayat di atas menegaskan perintah untuk berbuat baik kepada  orang tua. Apalagi melihat redaksi ayat tersebut, sebelum perintah berbuat baik kepada  orang tua, dilarang menyekutukan Allah Swt. Asy-Syaukani dalam hal ini menjelaskan, “Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya).”

Bagaimana bentuk berbuat baik kepada   orang tua? Setidaknya ada lima hal yang dapat kita ambil pelajaran dari Q.S. al-Isra/17:23-24, yaitu sebagai berikut.

a. Jangan engkau mengatakan kepada keduanya uf

Dalam Q.S. al-Isrā ayat 23 di atas, seorang anak dilarang mengatakan uf. Menurut Quraisy Syihab, bukan karena kata itu, tetapi kandungan kata itu oleh masyarakat Arab, hal tersebut dianggap penghinaan. Sedangkan menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan jika ada perkataan yang lebih ringan dari “ah”, maka Allah akan menyebutkan kata itu. Dalam Al-Qur’an dan terjemahnya yang dikeluarkan Kementerian Agama, kata uf diartikan dengan ah. Mengapa tidak boleh? karena kata tersebut di masyarakat dinilai sebagai ucapan kekesalan dan penghinaan. Pertanyaannya, berkata ahsaja tidak boleh, apalagi kata yang lebih panjang yang menyakiti hati  orang tua?

b.  Jangan membentak keduanya (walaa tanharhumaa)

Ayat ini melarang anak membentak kepada  orang tua, baik berupa lisan maupun sikap. Dengan membentak tentunya  orang tua akan sakit hati, padahal  orang tua yang merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya.

c.  Bertutur kata dengan perkataan yang baik (waqul lahumaa qaulan karima)

Ini adalah perintah anak kepada   orang tua agar bertutur kata dengan ucapan yang baik. Jangan sampai melakukan yang diungkap sebelumnya, yaitu berkata ahatau membentaknya.

d.  Merendahkan diri kepada   orang tua dengan penuh kasih sayang (wakh‑dz lahumaa janaaha al-dzulli min ar-rahmah)

Meskipun orang tuanya secara pendidikan lebih rendah, anak tidak boleh merasa sombong. Dengan kata lain, kita dilarang merendahkan diri kepada  orang tua baik lisan maupun tindakan.

e.  Selalu mendoakan  orang tua

Sebagai anak shaleh dan shalehah, tentunya kita selalu mendoakan  orang tua. Bagi yang masih hidup, didoakan semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan dalam mencari rezeki, dan selalu dalam bimbingan Allah Swt. Sedangkan bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, didoakan, semoga diampuni segala dosanya dan diberi kenikmatan di alam barzakh.

Terkait perintah berbuat baik kepada  orang tua, tidak hanya dalam  Al-Qur’an, tetapi juga ada di hadits Nabi Muhammad Saw. di antaranya:

Artinya:

Dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah bersabda: Ridha Allah terletak kepada ridha  orang tua. Murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua(HR. Tirmidzi).

Dari hadits di atas menegaskan agar anak harus berbuat baik kepada  orang tua. Jangan sampai ada anak durhaka dengan  orang tua. Apalagi dalam hadits ini ada hubungannya dengan Allah Swt. Makanya, seorang anak harus berbakti kepada  orang tua.

Artinya:

Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah Saw. “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah Swt.” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.” Kemudian apa? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.”, kemudian apa? Beliau menjawab, “Jihad fi Sabilillah.” (HR.  Bukhari)

Dari hadits di atas menjelaskan bahwa posisi berbakti kepada orang tua menempati ranking kedua amalan yang dicintai Allah Swt. Ranking pertama adalah salat pada waktunya. Yang menarik amalan jihad fi sabililah berada posisi setelah birrul walidain.

Pertanyaannya, mengapa kita harus berbakti kepada  orang tua? Dalam hal ini  Al-Qur’an menjawab dengan tegas dalam Q.S. Luqmān/31: 14.

Artinya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembali-mu (Q.S. Luqman/31: 14).

Hal senada dengan ayat di atas juga dijelaskan dalam Q.S. al-Ahqāf/46: 15.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa,“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa  orang tua, khususnya ibu adalah yang mengandung selama kurang lebih sembilan bulan yang susah payah. Setelah itu melahirkan dengan susah payah juga, kemudian memelihara dan mendidiknya. Sedangkan ayah, bekerja mencari nafkah untuk membiayai hidup keluarganya. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dan  orang tua, kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua  orang tua.

Sehubungan dengan anak yang berbakti kepada  orang tua, kita belajar dari Kisah Uwais al-Qarni sebagaimana disebutkan dalam  Hadits Nabi Muhammad Saw.

Telah menceritakan kepadaku (Sa’id Al Jurairi) dari (Abu Nadhrah] dari [(Usair bin Jabir) bahwa penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada (Umar bin Khaththab), dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata: “Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran.” Kemudian orang itu menghadap Umar. Kemudian, Umar berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih).

Kemudian dia berdoa kepada Allah, dan Allah pun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.” Telah menceritakan kepada kami (Hammad) yaitu Ibnu Salamah dari [Sa’id Al Jurairi] melalui jalur ini dari (‘Umar bin Al Khaththab) dia berkata: Sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik tabi’in, adalah seorang laki-laki yang biasa dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang di tubuhnya. Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian.” (HR.  Muslim No. 2542).

Kemudian juga bisa ditemukan dalam  Hadits  Muslim No. 225 sebagai berikut.

Telah menceritakan kepadaku (Bapakku); dari (Qatadah) dari (Zurarah bin Aufa) dari (Usair bin Jabir) dia berkata; “Ketika (Umar bin Khaththab) didatangi oleh rombongan orang-orang Yaman, ia selalu bertanya kepada mereka; “Apakah Uwais bin Amir dalam rombongan kalian?“ Hingga pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khaththab bertemu dengan Uwais seraya bertanya; “Apakah kamu Uwais bin Amir?” Uwais menjawab: “Ya. Benar saya adalah Uwais.” Khalifah Umar bertanya lagi: “Kamu berasal dari Murad dan Qaran?” Uwais menjawab; “Ya benar.” Selanjutnya Khalifah Umar bertanya lagi: “Apakah kamu pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham pada dirimu?” Uwais menjawab: “Ya benar.”

Khalifah Umar bertanya lagi: “Apakah ibumu masih ada?” Uwais menjawab; “Ya, ibu saya masih ada.” Khalifah Umar bin Khaththab berkata: “Hai Uwais, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang Yaman yang berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan ia selalu berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia memohonkan ampunan untuk kalian, lakukanlah!” Oleh karena itu hai Uwais, mohonkanlah ampunan untukku!” Lalu Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar bin Khaththab.

Setelah itu, Khalifah Umar bertanya kepada Uwais: “Hendak pergi kemana kamu hai Uwais?” Uwais bin Amir menjawab: “Saya hendak pergi ke Kufah ya Amirul mukminin.” Khalifah Umar berkata lagi: “Apakah aku perlu membuatkan surat khusus kepada pejabat Kufah?” Uwais bin Amir menjawab: “Saya Iebih senang berada bersama rakyat jelata ya Amirul mukminin.” Usair bin Jabir berkata: “Pada tahun berikutnya, seorang pejabat tinggi Kufah pergi melaksanakan ibadah haji ke Makkah.” Selesai melaksanakan ibadah haji, ia pun pergi mengunjungi Khalifah Umar bin Khaththab.

Lalu Khalifah pun menanyakan tentang berita Uwais kepadanya. Pejabat itu menjawab: “Saya membiarkan Uwais tinggal di rumah tua dan hidup dalam kondisi yang sangat sederhana.” Umar bin Khaththab berkata: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Kelak Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orangorang Yaman. Ia berasal dari Murad dan kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham. Kalau ia bersumpah dengan nama Allah, niscaya akan dikabulkan sumpahnya. Jika kamu dapat meminta agar ia berkenan memohonkan ampunan untukmu, maka laksanakanlah!”

Setelah itu, pejabat Kufah tersebut Iangsung menemui Uwais dan berkata kepadanya: “Wahai Uwais, mohonkanlah ampunan untukku!” Uwais bin Amir dengan perasaan heran menjawab: “Bukankah engkau baru saja pulang dari perjalanan suci, ibadah haji di Makkah? Maka seharusnya engkau yang memohonkan ampunan untuk saya. “Pejabat tersebut tetap bersikeras dan berkata: “Mohonkanlah ampunan untukku hai Uwais?” Uwais bin Amir pun menjawab: “Engkau baru pulang dari ibadah haji, maka engkau yang Iebih pantas mendoakan saya.”

Kemudian Uwais balik bertanya kepada pejabat itu: “Apakah engkau telah bertemu dengan Khalifah Umar bin Khaththab di Madinah?” Pejabat Kufah itu menjawab: “Ya. Aku telah bertemu dengannya.” Akhirnya Uwais pun memohonkan ampun untuk pejabat Kufah tersebut. Setelah itu, Uwais dikenal oleh masyarakat luas, tetapi ia sendiri tidak berubah hidupnya dan tetap seperti semula. Usair berkata: “Maka aku memberikan Uwais sehelai selendang yang indah, hingga setiap kali orang yang melihatnya pasti akan bertanya: “Dari mana Uwais memperoleh selendang itu?” ( Hadits  Muslim Nomor 225)

Manfaat Hormat dan Patuh kepada Orang Tua

Di bawah ini di antara manfaat hormat dan patuh kepada  orang tua.

a.  Berbuat baik kepada   orang tua merupakan amalan yang utama. Dalam beberapa ayat  Al-Qur’an, perintah berbuat baik disandingkan dengan larangan menyekutukan Allah Swt. Bahkan dalam hadits Nabi Muhammad Saw., berbuat baik kepada  orang tua termasuk amalan utama yang dicintai Allah Swt., setelah amalan shalat pada waktunya;

b.  Berbuat baik kepada  orang tua mengantarkan kita mendapatkan ridha dari Allah Swt. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad Saw., bahwa ridha Allah terletak pada ridha  orang tua;

c.  Berbuat baik kepada  orang tua dapat menghindari dari murka Allah Swt. karena murka Allah terletak pada murka   orang tua sebagaimana dalam hadits yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya;

d.  Salah satu sebab diampuni dosanya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya? Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ibumu masih hidup? berkata dia: “Tidak.” Bersabda Rasullah Saw: “Kalau bibimu masih ada?” dia berkata: “Ya”, bersabda Rasulullah: “Berbuatlah baiklah kepadanya.”(H.R. Tirmidzi)

e.  Berbuat baik kepada  orang tua menjadi sebab masuknya ke surga. Hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad Saw. “Dari Mu’awiyah bin Jahimah r.a. Bahwasanya Jahimah datang kepada Rasul Saw. kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada Anda. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Berkata dia: “Ya”. Bersabda Rasulullah Saw.: “Surga itu di bawah telapak kakinya.”(H.R. an-Nasai)

2.  Hormati dan Patuhi Guru

Dengan kata lain,  guru mempunyai dua tugas yang mulia, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peserta didik. Dalam kajian Islam,  guru disebut dengan murabbi, mu’alim,dan mu’addib. Chabib Thoha memberikan pengertian murabbi adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat rabbani yaitu nama bagi orang-orang yang bijaksana dan terpelajar dalam bidang pengetahuan. Sedangkan mu’alim bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan atau keterampilan. Sementara mua’adib adalah memberi adab dan mendidik peserta didik. Antara ketiga hal tersebut, seharusnya menjadi satu kesatuan yang harus dimiliki  guru.

Melihat tugas yang mulia tersebut, pakar pendidikan Islam, Muhammad Athiyyah al-Abrasyi menyamakan dengan ‘ulama. Posisi ulama sendiri ditegaskan dalam Q.S. Fathir/35: 28.

Artinya:

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Q.S. Fatir/35: 28).

Guru adalah pewaris para nabi. Mengapa? Karena melalui guru, ilmu yang para nabi, disampaikan kepada umat manusia. Bahkan ulama klasik, al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumudinmenegaskan: “Seseorang yang berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit. Ia ibarat matahari yang mencahayai dirinya sendiri dan menyinari orang lain, ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya.”

Penyair Syauqi sendiri mengapresiasi posisi  guru yang sangat mulia sebagaimana dalam syairnya: “Berdiri dan hormatilah guru dan berilah ia penghargaan. Seorang   guru itu hampir saja merupakan seorang rasul.”

Guru menurut Muhammad Athiyyah al-Abrasyi adalah abu al-ruh (bapak rohani) bagi peserta didik. Mereka yang membentuk karakter peserta didik untuk taat kepada Allah (shaleh spiritual) dan berbuat baik kepada diri sendiri maupun sesama manusia (saleh sosial). Hal senada juga diungkapkan Ibnu Miskawaih,

guru berfungsi sebagai  orang tua/bapak ruhani, orang yang dimuliakan, dan kebaikan yang diberikan adalah kebaikan ilahi. Ia mengantarkan peserta didik menjadi arif, menunjukkan kehidupan dan kenikmatan yang abadi, yaitu di surga.

Dalam hubungannya dengan   guru, perlu menyimak yang diungkapkan Ali bin Abi Thalib, “Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.” Karenanya, Ali bin Abi Thalib dijuluki dengan bab al-ilmi(pintunya ilmu). Ali bin Abi Thalib belajar langsung kepada Nabi Muhammad Saw. Menurut Ali Muhammad ash-Shallabi, Ali bin Abi Thalib gemar bertanya untuk mencari ilmu dan tidak pernah menyia-nyiakan untuk selalu berada di sisi Nabi.

Menurut Ali, apabila bertanya, maka diberikan apa yang ditanyakan. Sebaliknya, kalau diam, maka tidak akan mendapatkan sesuatu. Dalam keadaan tertentu, Ali merasa malu bertanya kepada Rasulullah Saw., padahal ia ingin bertanya, maka ia pun meminta kepada sahabat yang lain untuk menanyakan apa yang ingin ditanyakan kepada Rasulullah.

Kemudian, kita juga perlu belajar dari Abdurrahman bin alQasim, murid Imam Malik. Ia mengatakan, “Aku mengabdi kepada Imam Malik selama dua puluh tahun, dua tahun di antaranya untuk mempelajari ilmu dan delapan belas untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk memperbaiki adab.”

a. Manfaat Hormat dan Patuh Kepada Guru

Di antara manfaat hormat dan patuh kepada  guru adalah.

1)  Ilmu yang telah diterima akan lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

2)  Memudahkan dalam memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Karena dengan hormat dan patuh kepadanya, maka  guru dengan senang hati menjelaskan materi pembelajaran.

3)  Guru akan selalu mendoakan peserta didik dalam setiap doanya agar diampuni segala dosanya dan diberi kemudahan dalam menjalankan amanah.

b. Cara Berbakti kepada Orang Tua

Di bawah ini adalah cara berbakti kepada   orang tua. Dalam berbakti kepada  orang tua dibagi menjadi dua, yaitu  orang tua yang masih hidup dan  orang tua yang sudah meninggal dunia. Di bawah ini adalah penjelasannya:

1)  Di antara cara berbakti kepada  orang tua yang masih hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah:

a)  sebelum berangkat sekolah bersalaman dengan  orang tua, mohon doa restunya;

b)  bertutur kata yang sopan dengan kedua   orang tua baik di rumah maupun di luar rumah;

c)  bersikap santun kepada  orang tua baik di rumah maupun di luar rumah;

d)  membantu kedua   orang tua di rumah, misalnya: menyapu;

e)  melaksanakan amanah  orang tua untuk belajar dengan giat;

f)  mengikuti keinginan dan saran   orang tua dalam aspek kehidupan, tentunya dengan catatan selama keinginan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam;

g)  mendoakan kedua  orang tua, minimal setelah salat wajib;

h)  merendahkan diri di hadapan  orang tua dengan penuh kasih sayang;

i)  mendahulukan berbakti kepada ibu setelah itu baru ayah.

2)  Di antara cara berbakti kepada   orang tua yang sudah meninggal dunia adalah:

a) merawat jenazahnya dengan baik, yaitu memandikan, mengafani, menshalati, dan menguburkan;

b) mendoakan  orang tua, semoga diampuni segala dosanya;

c)  menjaga nama baik   orang tua dengan selalu berbuat baik;

d) melaksanakan amanah  orang tua untuk belajar yang sungguh-sungguh;

e)  menjalin silaturrahim yang sudah dijalin   orang tua waktu masih hidup;

f) menunaikan janji kedua   orang tua, selagi tidak bertentangan dengan ajaran Islam;

c.  Cara Berbakti kepada Guru

Dalam berbakti kepada   guru dibedakan menjadi dua, yaitu pertama,  guru yang sekarang masih mengajar di sekolahmu dan kedua,  guru yang pernah mengajarmu pada jenjang sebelumnya. Dari keduanya akan dijelaskan sebagai berikut.

1)  Di antara cara berbakti kepada  guru yang masih mengajar di sekolahmu, adalah:

a) saat bertemu di sekolah ataupun di luar sekolah, menyampaikan senyum, salam, dan sapa;

b)  membantu menyiapkan persiapan pembelajaran di kelas, misalnya menghapus tulisan di papan tulis;

c) memperhatikan   guru saat menjelaskan materi pembelajaran;

d)  apabila bertanya, disampaikan dengan cara yang santun;

e)  melaksanakan tugas pelajaran dengan sebaik-baiknya.

2)  Di antara cara berbakti kepada   guru yang pernah mengajar pada jenjang sebelumnya adalah:

a)  apabila bertemu menyampaikan senyum, salam, dan sapa;

b)  bertutur kata dan bersikap sopan dan santun;

c)  menjalin silaturrahim;

d) mendoakannya semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan, dan kesuksesan;

e)  melaksanakan amanah yang diberikan untuk menjadi anak yang shaleh dan shalehah.

Sekian materi untuk pertemuan kali ini, untuk Absensi silahkan isi link di bwah ini :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUMBER HUKUM ISLAM (AL-QUR'AN)

KELAS XI : BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN DAN ETOS KERJA