KELAS XI : MENGHORMATI ORANG TUA DAN GURU
1. Hormati dan Patuhi Orang Tua
Hormat dan patuh kepada orang
tua adalah kewajiban setiap anak. Dalam agama Islam mengajarkan berbakti
kepada orang tua adalah hal yang sangat
penting. Istilah lain berbakti kepada
orang tua adalah bir al-walidain.Maksud berbakti, menurut al-Atsari adalah
menaati kedua orang tua dengan melakukan
semua apa yang mereka perintahkan selama hal tersebut tidak bermaksiat kepada
Allah Swt.
Bukti nyata perhatian Islam terhadap perintah berbakti kepada orang tua, setidaknya ada empat ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang perintah
berbakti kepada orang tua disandingkan
dengan larangan menyekutukan Allah Swt., di antaranya dalam Q.S. al-Isrā/17:
23-24.
Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya
perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang baik.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya
dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana
mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (Q.S. Al-Isra/17: 23 - 24).
Dari Q.S. al-Isra ayat 23, ada kata qadha,
kalau dilihat dari beberapa tafsir mempunyai makna yang berbeda. Misalnya, Ibnu
Katsir mengartikan dengan mewasiatkan, sedangkan al-Qurtuby mengartikan dengan memerintahkan,
menetapkan, dan mewajibkan.
Secara umum, ayat di atas menegaskan perintah
untuk berbuat baik kepada orang tua.
Apalagi melihat redaksi ayat tersebut, sebelum perintah berbuat baik
kepada orang tua, dilarang menyekutukan
Allah Swt. Asy-Syaukani dalam hal ini menjelaskan, “Allah memerintahkan untuk
berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Ini pemberitahuan tentang betapa besar haq
mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan mereka, maka ini adalah perkara
yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya).”
Bagaimana bentuk berbuat baik kepada orang tua? Setidaknya ada lima hal yang
dapat kita ambil pelajaran dari Q.S. al-Isra/17:23-24, yaitu sebagai berikut.
a. Jangan engkau mengatakan kepada keduanya uf
Dalam Q.S. al-Isrā ayat 23 di atas, seorang
anak dilarang mengatakan uf. Menurut Quraisy Syihab, bukan karena kata itu, tetapi
kandungan kata itu oleh masyarakat Arab, hal tersebut dianggap penghinaan.
Sedangkan menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan jika ada perkataan yang lebih
ringan dari “ah”, maka Allah akan menyebutkan kata itu. Dalam Al-Qur’an dan
terjemahnya yang dikeluarkan Kementerian Agama, kata uf diartikan dengan ah. Mengapa
tidak boleh? karena kata tersebut di masyarakat dinilai sebagai ucapan
kekesalan dan penghinaan. Pertanyaannya, berkata ahsaja tidak boleh, apalagi
kata yang lebih panjang yang menyakiti hati
orang tua?
b. Jangan membentak keduanya (walaa tanharhumaa)
Ayat ini melarang anak membentak kepada orang tua, baik berupa lisan maupun sikap.
Dengan membentak tentunya orang tua akan
sakit hati, padahal orang tua yang
merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya.
c. Bertutur kata dengan perkataan yang baik (waqul lahumaa qaulan karima)
Ini adalah perintah anak kepada orang tua agar bertutur kata dengan ucapan
yang baik. Jangan sampai melakukan yang diungkap sebelumnya, yaitu berkata
ahatau membentaknya.
d. Merendahkan diri kepada orang tua dengan penuh kasih sayang (wakh‑dz lahumaa janaaha al-dzulli min ar-rahmah)
Meskipun orang tuanya secara pendidikan lebih
rendah, anak tidak boleh merasa sombong. Dengan kata lain, kita dilarang merendahkan
diri kepada orang tua baik lisan maupun
tindakan.
e. Selalu mendoakan orang tua
Sebagai anak shaleh dan shalehah, tentunya kita
selalu mendoakan orang tua. Bagi yang
masih hidup, didoakan semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan dalam mencari
rezeki, dan selalu dalam bimbingan Allah Swt. Sedangkan bagi orang tuanya yang
sudah meninggal dunia, didoakan, semoga diampuni segala dosanya dan diberi
kenikmatan di alam barzakh.
Artinya:
Dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah
bersabda: Ridha Allah terletak kepada ridha
orang tua. Murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua(HR. Tirmidzi).
Artinya:
Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah
Saw. “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah Swt.” Beliau menjawab, “Salat pada
waktunya.” Kemudian apa? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.”,
kemudian apa? Beliau menjawab, “Jihad fi Sabilillah.” (HR. Bukhari)
Dari hadits di atas menjelaskan bahwa posisi
berbakti kepada orang tua menempati ranking kedua amalan yang dicintai Allah Swt.
Ranking pertama adalah salat pada waktunya. Yang menarik amalan jihad fi sabililah
berada posisi setelah birrul walidain.
Pertanyaannya, mengapa kita harus berbakti kepada orang tua? Dalam hal ini Al-Qur’an menjawab dengan tegas dalam Q.S. Luqmān/31: 14.
Artinya:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar
berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembali-mu (Q.S.
Luqman/31: 14).
Hal senada dengan ayat di atas juga dijelaskan
dalam Q.S. al-Ahqāf/46: 15.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar
berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah
payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai
menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah
dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa,“Ya Tuhanku, berilah
aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku
dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau
ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang
muslim.”
Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa orang tua, khususnya ibu adalah yang
mengandung selama kurang lebih sembilan bulan yang susah payah. Setelah itu
melahirkan dengan susah payah juga, kemudian memelihara dan mendidiknya.
Sedangkan ayah, bekerja mencari nafkah untuk membiayai hidup keluarganya.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dan
orang tua, kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
Sehubungan dengan anak yang berbakti
kepada orang tua, kita belajar dari
Kisah Uwais al-Qarni sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw.
Telah menceritakan kepadaku (Sa’id Al Jurairi)
dari (Abu Nadhrah] dari [(Usair bin Jabir) bahwa penduduk Kufah mengutus
beberapa utusan kepada (Umar bin Khaththab), dan di antara mereka ada seseorang
yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata: “Apakah di sini ada yang berasal dari
Qaran.” Kemudian orang itu menghadap Umar. Kemudian, Umar berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya akan datang
kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia
tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang
(berwarna putih).
Kemudian dia berdoa kepada Allah, dan Allah pun
menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham
saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya
untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.” Telah menceritakan kepada
kami (Hammad) yaitu Ibnu Salamah dari [Sa’id Al Jurairi] melalui jalur ini dari
(‘Umar bin Al Khaththab) dia berkata: Sungguh aku telah mendengar Rasulullah
Saw. bersabda: “Sebaik-baik tabi’in, adalah seorang laki-laki yang biasa
dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang di
tubuhnya. Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk
kalian.” (HR. Muslim No. 2542).
Kemudian juga bisa ditemukan dalam Hadits
Muslim No. 225 sebagai berikut.
Telah menceritakan kepadaku (Bapakku); dari
(Qatadah) dari (Zurarah bin Aufa) dari (Usair bin Jabir) dia berkata; “Ketika
(Umar bin Khaththab) didatangi oleh rombongan orang-orang Yaman, ia selalu bertanya
kepada mereka; “Apakah Uwais bin Amir dalam rombongan kalian?“ Hingga pada
suatu hari, Khalifah Umar bin Khaththab bertemu dengan Uwais seraya bertanya;
“Apakah kamu Uwais bin Amir?” Uwais menjawab: “Ya. Benar saya adalah Uwais.” Khalifah
Umar bertanya lagi: “Kamu berasal dari Murad dan Qaran?” Uwais menjawab; “Ya
benar.” Selanjutnya Khalifah Umar bertanya lagi: “Apakah kamu pernah terserang penyakit
kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham pada dirimu?” Uwais
menjawab: “Ya benar.”
Khalifah Umar bertanya lagi: “Apakah ibumu
masih ada?” Uwais menjawab; “Ya, ibu saya masih ada.” Khalifah Umar bin
Khaththab berkata: “Hai Uwais, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah
Saw. bersabda: “Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang
Yaman yang berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit
kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan
ia selalu berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan
dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia memohonkan
ampunan untuk kalian, lakukanlah!” Oleh karena itu hai Uwais, mohonkanlah
ampunan untukku!” Lalu Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar bin Khaththab.
Setelah itu, Khalifah Umar bertanya kepada
Uwais: “Hendak pergi kemana kamu hai Uwais?” Uwais bin Amir menjawab: “Saya
hendak pergi ke Kufah ya Amirul mukminin.” Khalifah Umar berkata lagi: “Apakah
aku perlu membuatkan surat khusus kepada pejabat Kufah?” Uwais bin Amir menjawab:
“Saya Iebih senang berada bersama rakyat jelata ya Amirul mukminin.” Usair bin
Jabir berkata: “Pada tahun berikutnya, seorang pejabat tinggi Kufah pergi
melaksanakan ibadah haji ke Makkah.” Selesai melaksanakan ibadah haji, ia pun
pergi mengunjungi Khalifah Umar bin Khaththab.
Lalu Khalifah pun menanyakan tentang berita
Uwais kepadanya. Pejabat itu menjawab: “Saya membiarkan Uwais tinggal di rumah
tua dan hidup dalam kondisi yang sangat sederhana.” Umar bin Khaththab berkata:
“Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Kelak Uwais bin
Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orangorang Yaman. Ia berasal dari
Murad dan kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh
kecuali tinggal sebesar mata uang dirham. Kalau ia bersumpah dengan nama Allah,
niscaya akan dikabulkan sumpahnya. Jika kamu dapat meminta agar ia berkenan
memohonkan ampunan untukmu, maka laksanakanlah!”
Setelah itu, pejabat Kufah tersebut Iangsung
menemui Uwais dan berkata kepadanya: “Wahai Uwais, mohonkanlah ampunan
untukku!” Uwais bin Amir dengan perasaan heran menjawab: “Bukankah engkau baru
saja pulang dari perjalanan suci, ibadah haji di Makkah? Maka seharusnya engkau
yang memohonkan ampunan untuk saya. “Pejabat tersebut tetap bersikeras dan
berkata: “Mohonkanlah ampunan untukku hai Uwais?” Uwais bin Amir pun menjawab:
“Engkau baru pulang dari ibadah haji, maka engkau yang Iebih pantas mendoakan
saya.”
Kemudian Uwais balik bertanya kepada pejabat
itu: “Apakah engkau telah bertemu dengan Khalifah Umar bin Khaththab di
Madinah?” Pejabat Kufah itu menjawab: “Ya. Aku telah bertemu dengannya.”
Akhirnya Uwais pun memohonkan ampun untuk pejabat Kufah tersebut. Setelah itu,
Uwais dikenal oleh masyarakat luas, tetapi ia sendiri tidak berubah hidupnya
dan tetap seperti semula. Usair berkata: “Maka aku memberikan Uwais sehelai
selendang yang indah, hingga setiap kali orang yang melihatnya pasti akan bertanya:
“Dari mana Uwais memperoleh selendang itu?” ( Hadits Muslim Nomor 225)
Manfaat Hormat dan Patuh kepada Orang Tua
Di bawah ini di antara manfaat hormat dan patuh
kepada orang tua.
a.
Berbuat baik kepada orang tua
merupakan amalan yang utama. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, perintah berbuat baik disandingkan
dengan larangan menyekutukan Allah Swt. Bahkan dalam hadits Nabi Muhammad Saw.,
berbuat baik kepada orang tua termasuk
amalan utama yang dicintai Allah Swt., setelah amalan shalat pada waktunya;
b.
Berbuat baik kepada orang tua
mengantarkan kita mendapatkan ridha dari Allah Swt. Hal ini ditegaskan dalam
hadits Nabi Muhammad Saw., bahwa ridha Allah terletak pada ridha orang tua;
c.
Berbuat baik kepada orang tua
dapat menghindari dari murka Allah Swt. karena murka Allah terletak pada
murka orang tua sebagaimana dalam
hadits yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya;
d. Salah
satu sebab diampuni dosanya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Saw.
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. bahwasanya seorang laki-laki datang kepada
Rasulullah Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa
kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya? Maka Rasulullah
bersabda: “Apakah ibumu masih hidup? berkata dia: “Tidak.” Bersabda Rasullah
Saw: “Kalau bibimu masih ada?” dia berkata: “Ya”, bersabda Rasulullah:
“Berbuatlah baiklah kepadanya.”(H.R. Tirmidzi)
e.
Berbuat baik kepada orang tua
menjadi sebab masuknya ke surga. Hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad Saw. “Dari
Mu’awiyah bin Jahimah r.a. Bahwasanya Jahimah datang kepada Rasul Saw. kemudian
berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang dan saya
datang (ke sini) untuk minta nasehat pada Anda. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Berkata dia: “Ya”. Bersabda Rasulullah Saw.:
“Surga itu di bawah telapak kakinya.”(H.R. an-Nasai)
2. Hormati dan Patuhi Guru
Dengan kata lain, guru mempunyai dua tugas yang mulia, yaitu
menyampaikan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peserta didik. Dalam
kajian Islam, guru disebut dengan
murabbi, mu’alim,dan mu’addib. Chabib Thoha memberikan pengertian murabbi
adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat rabbani yaitu nama bagi orang-orang
yang bijaksana dan terpelajar dalam bidang pengetahuan. Sedangkan
mu’alim bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan atau
keterampilan. Sementara mua’adib adalah memberi adab dan mendidik peserta didik.
Antara ketiga hal tersebut, seharusnya menjadi satu kesatuan yang harus
dimiliki guru.
Artinya:
Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk
bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya
(dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah
para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Q.S. Fatir/35: 28).
Guru adalah pewaris para nabi. Mengapa? Karena
melalui guru, ilmu yang para nabi, disampaikan kepada umat manusia. Bahkan
ulama klasik, al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumudinmenegaskan: “Seseorang yang
berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan besar di bawah
kolong langit. Ia ibarat matahari yang mencahayai dirinya sendiri dan menyinari
orang lain, ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain dan ia
sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia
telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, hendaknya ia
memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya.”
Penyair Syauqi sendiri mengapresiasi
posisi guru yang sangat mulia
sebagaimana dalam syairnya: “Berdiri dan hormatilah guru dan berilah ia
penghargaan. Seorang guru itu hampir
saja merupakan seorang rasul.”
Guru menurut Muhammad Athiyyah al-Abrasyi
adalah abu al-ruh (bapak rohani) bagi peserta didik. Mereka yang membentuk karakter
peserta didik untuk taat kepada Allah (shaleh spiritual) dan berbuat baik
kepada diri sendiri maupun sesama manusia (saleh sosial). Hal senada juga
diungkapkan Ibnu Miskawaih,
guru berfungsi sebagai orang tua/bapak ruhani, orang yang dimuliakan,
dan kebaikan yang diberikan adalah kebaikan ilahi. Ia mengantarkan peserta
didik menjadi arif, menunjukkan kehidupan dan kenikmatan yang abadi, yaitu di
surga.
Dalam hubungannya dengan guru, perlu menyimak yang diungkapkan Ali
bin Abi Thalib, “Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku
siap menjadi budaknya.” Karenanya, Ali bin Abi Thalib dijuluki dengan bab
al-ilmi(pintunya ilmu). Ali bin Abi Thalib belajar langsung kepada Nabi
Muhammad Saw. Menurut Ali Muhammad ash-Shallabi, Ali bin Abi Thalib gemar bertanya
untuk mencari ilmu dan tidak pernah menyia-nyiakan untuk selalu berada di sisi
Nabi.
Menurut Ali, apabila bertanya, maka diberikan
apa yang ditanyakan. Sebaliknya, kalau diam, maka tidak akan mendapatkan sesuatu.
Dalam keadaan tertentu, Ali merasa malu bertanya kepada Rasulullah Saw.,
padahal ia ingin bertanya, maka ia pun meminta kepada sahabat yang lain untuk
menanyakan apa yang ingin ditanyakan kepada Rasulullah.
Kemudian, kita juga perlu belajar dari
Abdurrahman bin alQasim, murid Imam Malik. Ia mengatakan, “Aku mengabdi kepada Imam
Malik selama dua puluh tahun, dua tahun di antaranya untuk mempelajari ilmu dan
delapan belas untuk mempelajari adab. Seandainya saja aku bisa jadikan seluruh
waktu tersebut untuk memperbaiki adab.”
a. Manfaat Hormat dan Patuh Kepada Guru
Di antara manfaat hormat dan patuh kepada guru adalah.
1) Ilmu
yang telah diterima akan lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang
lain.
2)
Memudahkan dalam memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Karena dengan hormat dan patuh kepadanya, maka
guru dengan senang hati menjelaskan materi pembelajaran.
3) Guru
akan selalu mendoakan peserta didik dalam setiap doanya agar diampuni segala
dosanya dan diberi kemudahan dalam menjalankan amanah.
b. Cara Berbakti kepada Orang Tua
Di bawah ini adalah cara berbakti kepada orang tua. Dalam berbakti kepada orang tua dibagi menjadi dua, yaitu orang tua yang masih hidup dan orang tua yang sudah meninggal dunia. Di
bawah ini adalah penjelasannya:
1) Di antara cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah:
a)
sebelum berangkat sekolah bersalaman dengan orang tua, mohon doa restunya;
b)
bertutur kata yang sopan dengan kedua
orang tua baik di rumah maupun di luar rumah;
c)
bersikap santun kepada orang tua
baik di rumah maupun di luar rumah;
d)
membantu kedua orang tua di
rumah, misalnya: menyapu;
e)
melaksanakan amanah orang tua
untuk belajar dengan giat;
f)
mengikuti keinginan dan saran
orang tua dalam aspek kehidupan, tentunya dengan catatan selama
keinginan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam;
g)
mendoakan kedua orang tua,
minimal setelah salat wajib;
h)
merendahkan diri di hadapan orang
tua dengan penuh kasih sayang;
i)
mendahulukan berbakti kepada ibu setelah itu baru ayah.
2) Di antara cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal dunia adalah:
a) merawat jenazahnya dengan baik, yaitu
memandikan, mengafani, menshalati, dan menguburkan;
b) mendoakan
orang tua, semoga diampuni segala dosanya;
c)
menjaga nama baik orang tua
dengan selalu berbuat baik;
d) melaksanakan amanah orang tua untuk belajar yang sungguh-sungguh;
e)
menjalin silaturrahim yang sudah dijalin orang tua waktu masih hidup;
f) menunaikan janji kedua orang tua, selagi tidak bertentangan dengan
ajaran Islam;
c. Cara Berbakti kepada Guru
Dalam berbakti kepada guru dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, guru yang sekarang masih mengajar di
sekolahmu dan kedua, guru yang pernah
mengajarmu pada jenjang sebelumnya. Dari keduanya akan dijelaskan sebagai
berikut.
1) Di antara cara berbakti kepada guru yang masih mengajar di sekolahmu, adalah:
a) saat bertemu di sekolah ataupun di luar
sekolah, menyampaikan senyum, salam, dan sapa;
b)
membantu menyiapkan persiapan pembelajaran di kelas, misalnya menghapus
tulisan di papan tulis;
c) memperhatikan guru saat menjelaskan materi pembelajaran;
d) apabila
bertanya, disampaikan dengan cara yang santun;
e)
melaksanakan tugas pelajaran dengan sebaik-baiknya.
2) Di antara cara berbakti kepada guru yang pernah mengajar pada jenjang sebelumnya adalah:
a)
apabila bertemu menyampaikan senyum, salam, dan sapa;
b)
bertutur kata dan bersikap sopan dan santun;
c)
menjalin silaturrahim;
d) mendoakannya semoga selalu diberi kesehatan,
kemudahan, dan kesuksesan;





Komentar
Posting Komentar