KELAS X : Meneladani Perjuangan Rasulullah Saw di Mekah (Bagian 3)

 B.  Reaksi Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah saw.

Sebagaimana  yang  telah  disinggung  pada  bagian  sebelumnya,  kaum kafir Quraisy terus berupaya menggalang kekuatan agar Rasulullah saw. dan upayanya dalam penyebaran ajaran Islam dapat dihentikan. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai mengajak berdialog dengan mengiming-imingi berbagai bantuan hingga kekerasan yang dilakukan terhadap Rasulullah saw. dan para sahabat  serta  pengikut  ajarannya.  Puncak  dari  kejengkelan  mereka  dengan cara memboikot Rasulullah saw. dan para sahabatnya serta pengikutnya dari boikot ekonomi dan politk.

Apa  yang  menyebabkan  mereka  begitu  keras  menolak  dan  geram terhadap ajaran yang dibawa Rasulullah saw.? Apa yang salah dengan ajaran tentang kebenaran dan kasih sayang yang merupakan idaman semua manusia beradab? Sebetulnya mereka mengetahui dan memahami betul bahwa ajaran Ilahi yang dibawa Rasulullah saw. adalah ajaran yang lurus, benar, dan haq.

Ada  beberapa  alasan  kaum  kafir  menolak  dan  menentang  ajaran  yang dibawa Rasulullah saw, di antaranya adalah sebagai berikut.

1.  Kesombongan dan Keangkuhan

Bangsa  Arab jahiliah dikenal  sebagai  bangsa  yang  sangat  angkuh  dan sombong. Mereka menganggap bahwa semua yang telah mereka lakukan adalah  sesuatu  yang  benar.  Mereka  menganggap  bahwa  tdak  salah dengan  apa  yang  mereka  lakukan.  Kesombongan  mereka  tercermin  dari sya’ir-sya’ir yang  mereka  buat,  terutama  kesombongan  kaum  Quraisy yang merasa suku mereka yang paling terhormat dan paling berpengaruh. Mereka memandang bahwa mereka lebih mulia dan tnggi derajatnya dari golongan bangsa Arab lainnya. Mereka tdak menerima ajaran persamaan hak  dan  derajat  yang  dibawa  Islam.  Oleh  karenanya,  mengakui  dan menerima ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. akan menurunkan dan  menjatuhkan  derajat  dan  martabat  serta  mengancam  kedudukan mereka.

2.  Fanatisme Buta terhadap leluhur

Kebiasaan  yang  telah  mengakar  kuat  dan  turun-temurun  dalam melaksanakan penyembahan Berhala dan kemusyrikan lainnya, menyebabkan  mereka  sangat  sulit  menerima  ajaran tauhid dan  menyembah  Allah Swt.  yang Ahad.  Kebiasaan  tersebut  sudah  mengkristal  dan  berakar, mereka sangat sulit diberikan pemahaman bertauhid. Tuhan bagi mereka diwujudkan dalam bentuk Berhala-berhala yang mereka buat sendiri sejak ratusan  tahun  lalu. Fanatisme terhadap  ajaran  leluhur  jelas-jelas  telah menenggelamkan mereka ke dalam kesesatan yang nyata.

fakta tersebut ditegaskan oleh allah swt. dalam frmannya: “dan apabila dikatakan kepada mereka, “marilah mengikuti apa yang diturunkan allah swt.  dan  (mengikuti)  rasul.” mereka  menjawab, “cukuplah  bagi  kami apa  yang kami  dapati  nenek  moyang kami  (mengerjakannya).” apakah (mereka  akan  mengikuti)  juga  nenek  moyang  mereka  walaupun  nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk͍͟.” (q.s. al-mā’idah/5:104)

3.  Eksistensi dan Persaingan Kekuasaan

Penolakan mereka terhadap ajaran Rasulullah saw. secara politis dapat melemahkan  eksistensi  dan  pengaruh  kekuasaan  mereka.  Jika  mereka menerima Rasulullah saw. dengan ajaran yang dibawanya, tentu saja akan berakibat  pada  lemahnya  pengaruh  dan  kekuasaan  mereka.  Kekuasaan dan  pengaruh  yang  selama  ini  mereka  dapatkan  dengan  menghalalkan berbagai  cara,  tentu  sangat  bertolak  belakang  dengan  ajaran  Rasulullah saw. Itulah sebabnya, mereka mati-matian͟ mempertahankan eksistensi dan keberadaan mereka untuk menolak Rasulullah saw.

 

C.  Contoh-Contoh  Penyiksaan  Quraisy  terhadap  Rasulullah  saw.  dan  Para Pengikutnya

Berikut adalah contoh-contoh penyiksaan kafr Quraisy terhadap Rasulullah saw. dan para pengikutnya.

1.  Suatu  hari,  Abu  Jahal  melihat  Rasulullah  saw.  di shafa,  ia  mencerca  dan menghina  tetapi  tidak  ditanggapi  oleh  Rasulullah  saw.  dan  ia  beranjak pulang. Kemudian, Abu Jahal pun bergabung dengan kelompoknya kaum Quraisy di samping Ka͛bah. Mendengar kejadian tersebut, Hamzah, paman Rasulullah  saw.,  marah  seraya  bangkit  mencari  Abu  Jahal.  Ia  kemudian menemukan  Abu  Jahal  yang  sedang  duduk  di  samping  Ka’bah  dengan kelompoknya kaum Quraisy. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat busur  dan  memukulkannya  ke  kepala  Abu  Jahal  hingga  tengkoraknya terluka.  “Engkau  mencerca  dia  (Rasulullah  saw.),  padahal  aku  sudah memeluk agamanya. Aku menempuh jalan yang ia tempuh. Jika mampu, ayo, lawan aku!” tantang Hamzah.

 

2.  Suatu  hari,  Uqbah  bin  Abi  Mu’it  melihat  Rasulullah  saw.  bertawaf,  lalu menyiksanya.  Ia  menjerat  leher  Rasulullah  saw.  dengan  sorbannya  dan menyeret  ke  luar  masjid.  Beberapa  orang  datang  menolong  Rasulullah saw. karena takut kepada Bani Hasyim.

 

3.  Penyiksaan  lain  dilakukan  oleh  pamannya  sendiri,  yaitu  Abu  Lahab  dan istrinya Ummu Jamil yang tada tara kejinya. Rasulullah saw. bertetangga dengan mereka. Mereka tak pernah berhenti melemparkan barang-barang kotor  kepadanya.  Suatu  hari  mereka  melemparkan  kotoran  domba  ke kepala Nabi. Sekali lagi Hamzah membalasnya dengan menimpakan barang yang sama ke kepala Abu Lahab.

 

4. Quraisy memboikot kaum muslimin

Kaum Quraisy memutuskan segala bentuk hubungan perkawinan dan perdagangan  dengan  Bani  Hasyim.  Persetujuan  pemboikotan  ini  dibuat dalam  bentuk  piagam,  ditandatangani  bersama  dan  digantungkan  di Ka͛bah.  Peristwa  ini  terjadi  pada  tahun  ke-7  kenabian  dan  berlangsung selama tga tahun. Pemboikotan ini mengakibatkan kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan bagi kaum muslimin. Untuk meringankan penderitaan kaum muslimin, mereka pindah ke suatu lembah di luar Kota Mekah.

 

D. Perjanjian Aqabah

Kerasnya penolakan dan perlawanan Quraisy, mendorong Nabi Muhammad saw. melancarkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah Arab di luar suku Quraisy. Dalam  melakukan  dakwah  ini,  Nabi  Muhammad  saw.  tidak  saja  menemui mereka di Ka’bah pada saat musim haji, ia juga mendatangi perkampungan dan tempat tinggal para kepala suku. danpa diketahui oleh seorang pun, Nabi Muhammad  saw.  pergi  ke Tha’if.  Di  sana  ia  menemui Taqif  dengan  harapan agar ia dan masyarakatnya mau menerimanya dan memeluk Islam. Taqif dan masyarakatnya menolak Nabi dengan kejam. Meski demikian, Nabi berlapang dada dan meminta Taqif untuk tdak menceritakan kedatangannya ke Tha’if agar ia tidak mendapat malu dari orang Quraisy. Permintaan itu tdak dihiraukan oleh Taqif, bahkan ia menghasut masyarakatnya untuk mengejek, menyoraki, mengusir, dan melempari Nabi. Selain itu, Nabi mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani Amir bin Sa‘sa’ah ke rumah-rumah mereka. Tak seorang  pun  dari  mereka  yang  mau  menyambut  dan  mendengar  dakwah Nabi.  Bahkan, Bani  Hanifah menolak  dengan  cara  yang  sangat  buruk.  Amir menunjukkan  ambisinya,  ia  mau  menerima  ajakan  Nabi  dengan  syarat  jika Nabi memperoleh kemenangan, kekuasaan harus berada di tangannya.

Pengalaman  tersebut  mendorong  Nabi  Muhammad  saw.  berkesimpulan bahwa  tidak  mungkin  lagi  mendapat  dukungan  dari  Quraisy  dan kabilah-kabilah Arab  lainnya.  Oleh  karena  itu,  Nabi  Muhammad  saw.  mengalihkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah lain yang ada di sekitar Mekah yang datang berziarah setiap tahun ke Mekah. Jika musim ziarah tiba, Nabi Muhammad saw.  pun  mendatangi kabilah-kabilah itu  dan  mengajak  mereka  untuk memeluk Islam. Tak berapa lama kemudian, tanda-tanda kemenangan datang dari  Yatsrib  (Madinah).  Nabi  Muhammad  saw.  sesungguhnya  mempunyai hubungan  emosional  dengan  Yatsrib.  Di  sanalah  ayahnya  dimakamkan,  di sana pula terdapat famili-familinya dari Bani Najjar yang merupakan keluarga kakeknya, Abdul Muthalib dari pihak ibu. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila di tempat ini kelak Nabi Muhammad saw. mendapat kemenangan dan Islam berkembang dengan amat pesat.

Yatsrib merupakan kota yang dihuni oleh orang yahudi dan Arab dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku ini selalu berperang merebut kekuasaan. Hubungan Aus dan  Khazraj dengan  yahudi membuat  mereka  memiliki  pengetahuan tentang  agama samawi.  Inilah  salah  satu  faktor  yang  menyebabkan  kedua suku Arab tersebut lebih mudah menerima kehadiran Nabi Muhammad saw. Ketika yahudi mengalami kekalahan, suku Aus dan Khazraj menjadi penguasa di Yatsrib. Yahudi tidak tinggal diam, mereka berusaha mengadu domba Aus dan Khazraj yang akhirnya menimbulkan perang saudara yang dimenangkan oleh Aus. Sejak saat itu, orang-orang yahudi yang sebelumnya terusir dapat

kembali tinggal di Yatsrib. Aus dan Khazraj menyadari derita dan kerugian yang mereka alami akibat permusuhan mereka. Oleh karena itu, mereka sepakat mengangkat Abdullah bin Muhammad dari suku Khazraj sebagai pemimpin. Namun, hal itu tidak terlaksana. Hal ini disebabkan beberapa orang Khazraj pergi ke Mekah pada musim ziarah(haji).

Kedatangan orang-orang Khazraj ke Mekah diketahui oleh Nabi Muhammad saw., dan ia pun segera menemui mereka. Setelah Nabi berbicara dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, mereka pun saling berpandangan dan salah seorang dari mereka berkata,“Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan oleh  orang-orang yahudi kepada  kita,  dan  jangan  sampai  mereka  (yahudi) mendahului kita.” Setelah itu, mereka kembali ke Yatsrib dan menyampaikan berita kenabian Muhammad saw. Mereka menyatakan kepada masyarakatnya bahwa  mereka  telah  menganut  Islam.  Berita  dan  pernyataan  yang  mereka sampaikan  mendapat  sambutan  yang  baik  dari  masyarakat.  Pada  musim

Ziarah tahun berikutnya, datanglah 12 orang penduduk Yatsrib menemui Nabi Muhammad saw. di Aqabah. Di tempat ini mereka berikrar kepada Nabi yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Aqabah I. Pada Perjanjian Aqabah I ini, orang-orang  Yatsrib berjanji  kepada  Nabi  untuk  tidak  menyekutukan  Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan  memfitnah,  baik  di  depan  atau  di  belakang,  jangan  menolak  berbuat kebaikan. Siapa mematuhi semua itu akan mendapat pahala surga dan kalau ada yang melanggar, persoalannya kembali kepada Allah Swt. 

Selanjutnya, Nabi menugaskan Mus’ab bin Umair untuk membacakan al-Qur’an, mengajarkan Islam serta seluk-beluk agama Islam kepada penduduk Yatsrib. Sejak itu, Mus’ab tinggal di Yatsrib. Jika musim ziarah tiba, ia berangkat ke Mekah dan menemui Nabi Muhammad saw. Dalam pertemuan itu, Mus’ab menceritakan  perkembangan  masyarakat  muslim  Yatsrib  yang  tangguh  dan kuat. Berita ini sungguh menggembirakan Nabi dan menimbulkan keinginan dalam hati Nabi untuk hijrahke sana.

Pada tahun 622 M, peziarah Yatsrib yang datang ke Mekah berjumlah 75 orang, dua orang di antaranya perempuan. Kesempatan ini digunakan Nabi melakukan  pertemuan  rahasia  dengan  para  pemimpin  mereka.  Pertemuan Nabi  dengan  para  pemimpin  Yatsrib  yang  berziarah ke  Mekah  disepakati di Aqabah pada tengah malam pada hari-hari Tasyrik (tidak sama dengan hari Tasyrik yang  sekarang).  Malam  itu,  Nabi  Muhammad  saw.  ditemani  oleh pamannya,  Abbas  bin  Abdul  Muthalib (yang  masih  memeluk  agama  nenek moyangnya) menemui orang-orang Yatsrib. Pertemuan malam itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perjanjian Aqabah II. Pada malam itu, mereka berikrar  kepada  Nabi  sebagai  berikut,  “Kami  berikrar,  bahwa  kami  sudah mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan di jalan Allah Swt. ini kami tdak gentar terhadap ejekan dan celaan siapapun.

Setelah masyarakat Yatsrib menyatakan ikrar mereka, Nabi berkata kepada mereka, “Pilihkan buat saya dua belas orang pemimpin dari kalangan kalian yang menjadi penanggung jawab masyarakatnya”. Mereka memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kepada dua belas orang itu, Nabi mengatakan,  Kalian  adalah  penanggung  jawab  masyarakat  kalian  seperti pertangungjawaban pengikut-pengikut Isa bin Maryam. Terhadap masyarakat saya,  sayalah  yang  bertanggung  jawab. Setelah  ikrar  selesai,  tiba-tiba terdengar  teriakan  , “Muhammad  dan orang-orang  murtad  itu  sudah  berkumpul  akan  memerangi  kamu!”.  Semua kaget dan terdiam. diba-tba Abbas bin Ubadah, salah seorang peserta ikrar, berkata  kepada  Nabi,  “Demi  Allah  Swt.  yang  mengutus  Anda  berdasarkan kebenaran, jika Nabi mengizinkan, besok penduduk Mina akan kami ‘habisi’ dengan  pedang  kami. Lalu,  Nabi  Muhammad  saw.  menjawab,  Kita tidak diperintahkan  untuk  itu,  kembalilah  ke  kemah  kalian!”  Keesokan  harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali dan segera bergegas pulang ke Yatsrib.

 

E. Peristiwa hijrah Kaum Muslimin

1. Hijrah ke Abisinia (Habsyi)

Untuk  menghindari  bahaya  penyiksaan,  Nabi  Muhammad  saw. menyarankan  para pengikutnya  untuk hijrah ke  Abisinia  (Habsyi).  Para sahabat pergi ke Abisinia dengan dua kali hijrah. Hijrah pertama sebanyak 15  orang;  sebelas  orang  laki-laki  dan  empat orang  perempuan.  Mereka berangkat  secara  sembunyi-sembunyi  dan  sesampainya  di sana,  mereka mendapatkan  perlindungan  yang  baik  dari  Najasyi  (sebutan  untuk  Raja Abisinia).  Ketika  mendengar  keadaan  Mekah  telah  aman,  mereka  pun kembali lagi. Namun, mereka kembali mendapatkan siksaan melebihi dari sebelumnya. Karena itu, mereka kembali hijrah untuk yang kedua kalinya ke Abisinia (tahun kelima dari kenabian atau tahun 615 M). Kali ini mereka berangkat sebanyak 80 orang laki-laki, dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Mereka tinggal  di  sana  hingga sesudah  Nabi hijrah ke Yatsrib  (Madinah). Peristwa hijrah ke  Abisinia  ini  dipandang  sebagai  hijrah pertama  dalam Islam.

Peristwa hijrah ke  Abisinia  ini  sungguh  tdak  menyenangkan  kaum Quraisy dan menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar. Ada dua hal yang  dikhawatirkan  oleh  kaum  Quraisy,  yaitu  pertama,  kaum  muslimin akan dapat menjalin hubungan yang luas dengan masyarakat Arab. Kedua, kaum muslimin akan menjadi kuat dan kembali ke Mekah untuk menuntut balas.  Oleh  karena  itu,  mereka  mengutus  Amr  bin  ‘Ash dan  Abdullah  bin Rabi’ah  kepada  Najasyi  agar  mau  menyerahkan  kaum  muslimin  yang berhijrah ke sana. Dengan mempersembahkan hadiah yang besar kepada Najasyi,  kedua  utusan  itu  berkata,  “Paduka  Raja,  mereka  yang  datang ke  negeri  tuan  ini  adalah  budak-budak  kami  yang  tdak  mempunyai malu.  Mereka  meninggalkan  agama  nenek  moyang  mereka  dan  tidak pula  menganut  agama  Paduka;  mereka  membawa  agama  yang  mereka ciptakan  sendiri,  yang  tidak  kami  kenal  dan  tidak  juga  Paduka  pahami.

Kami diutus oleh pemimpin-pemimpin mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman  mereka,  dan  keluarga-keluarga  mereka  supaya  Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada pemimpin-pemimpin kami. Mereka  lebih  mengetahui  betapa  orang-orang  itu  mencemarkan  dan mencerca agama mereka.”

Najasyi  kemudian  memanggil  kaum  muslimin  dan  bertanya  kepada mereka,  “Agama  apa  ini  sampai  membuat  tuan-tuan  meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri?” Kaum muslimin yang diwakili oleh Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Paduka Raja, masyarakat kami masyarakat yang bodoh,  menyembah  berhala,  memakan  bangkai,  melakukan  berbagai macam  kejahatan,  memutuskan  hubungan  dengan  kerabat,  tidak  baik dengan tetangga; yang kuat menindas yang lemah. Demikianlah keadaan masyarakat kami hingga Allah Swt. mengutus seorang rasul dari kalangan kami  sendiri  yang  kami  kenal  asal  usulnya,  jujur,  dapat  dipercaya,  dan bersih. Ia mengajak kami hanya menyembah kepada Allah Swt. Yang Maha Esa, meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami sembah. Ia melarang kami berdusta, menganjurkan untuk berlaku jujur, menjalin hubungan kekerabatan, bersikap baik kepada

tetangga,  dan  menghentkan  pertumpahan  darah.  Ia  melarang  kami melakukan segala perbuatan jahat, menggunakan kata-kata dusta dan keji, memakan  harta  anak  yatm,  dan  mencemarkan  nama  baik  perempuan yang  tak  bersalah.  Ia  meminta  kami  menyembah  Allah  Swt.  dan  tidak mempersekutukan-Nya.  Jadi,  yang  kami  sembah  hanya  Allah  Swt.  Yang tunggal, tidak mempersekutukan-Eya dengan apa dan siapa pun. Segala yang  diharamkan  kami  jauhi  dan  yang  dihalalkan  kami  lakukan.  Karena itulah kami dimusuhi, dipaksa meninggalkan agama kami. Karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, kami pun keluar menuju negeri Paduka ini. Padukalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat Paduka, dengan harapan di sini tdak ada penganiayaan.

Mendengar  pernyataan  yang  demikian fasih dan  santun,  akhirnya Raja  Najasyi  memberikan  perlindungan  kepada  kaum  muslimin  hingga kemudian  mereka  hidup  untuk  beberapa  lama  di  negeri  yang  jauh  dari tanah kelahirannya.

2.  Hijrah ke Madinah

Peristwa Ikrar Aqabah II ini diketahui oleh orang-orang Quraisy. Sejak itu  tekanan, intimidasi,  dan  siksaan  terhadap  kaum  muslimin  makin meningkat.  Kenyataaan  ini mendorong  Nabi  segera  memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu dua bulan saja, hampir semua kaum muslimin, sekitar 150 orang telah berangkat ke Yatsrib. Hanya Abu bakar dan Ali yang masih menjaga dan membela Nabi di Mekah. Akhirnya, Nabi pun hijrah setelah mendengar rencana Quraisy yang ingin membunuhnya.

Nabi Muhammad saw. dengan ditemani oleh Abu Bakar berhijrah ke Yatsrib. Sesampai di Quba, 5 km dari Yatsrib, Nabi beristrahat dan tinggal di sana selama beberapa hari. Nabi menginap di rumah Umi Kalsum bin Hindun.  Di  halaman  rumah  ini  Nabi  membangun  sebuah  masjid.  Inilah masjid pertama yang dibangun pada masa Islam yang kemudian dikenal dengan  Masjid  Quba.  Tak  lama  kemudian,  Ali  datang  menyusul  setelah menyelesaikan  amanah  yang  diserahkan  Nabi  kepadanya  pada  saat berangkat hijrah.

Ketika  Nabi  memasuki  Yatsrib,  ia  dielu-elukan  oleh  penduduk  kota itu  dan  menyambut  kedatangannya  dengan  penuh  kegembiraan.  Sejak itu, nama Yatsrib diganti dengan Madinatun Nabi (kota Nabi) atau sering pula  disebut  dengan Madinatun  Munawwarah (kota  yang  bercahaya). Dikatakan demikian karena memang dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh penjuru dunia.






Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw. pada periode Mekah di antaranya adalah seperti berikut.

1. Memiliki Sikap Tangguh

Dalam upaya meraih kesuksesan, diperlukan sikap tangguh dan pantang menyerah sebagaimana  yang  dicontohkan  oleh  Rasulullah  saw.  ketka  ia berjuang memberantas kemusyrikan. Lihat pula bagaimana orang-orang yang sukses meraih cita-citanya, mereka bersusah-payah berusaha terus-menerus tanpa mengenal lelah, sehingga mereka menjadi orang yang berhasil dalam cita-citanya.  Tidak  ada  perjuangan  tanpa  pengorbanan  dan  tidak  ada  pula kesuksesan tanpa kerja keras dan tangguh pantang menyerah.

Ketangguhan tidak datang  dengan  sendirinya.  Ia  memerlukan  pembelajaran dan  latihan  (riyadlah)  secara  terus menerus.  Ketangguhan  juga  harus didukung  oleh  kesehatan  fisik  dan pemahaman  yang  benar.  Kedua-duanya harus  berjalan  beriringan  dan  saling mendukung.  Kekuatan  fisik  dibarengi dengan  pemahaman  yang  benar  akan melahirkan manfaat yang besar, demikian pula sebaliknya.

Sikap  tangguh  dalam  kehidupan sehari-hari,  baik  di  lingkungan  keluarga,  sekolah,  maupun  masyarakat  di antaranya, seperti berikut.

a.  Menggunakan waktu untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan prestasi yang tinggi.

b.  Secara  terus-menerus  mencoba  sesuatu  yang  belum  dapat  dikerjakan sampai ditemukan solusi untuk mengatasinya.

c.  Melaksanakan  segala  peraturan  di  sekolah  sebagai  bentuk  pengamalan sikap disiplin dan tanggung jawab.

d.  Menjalankan  segala  perintah  agama  dan menjauhi larangannya  dengan penuh keikhlasan.

e.  Tidak putus asa ketika mengalami kegagalan dalam meraih suatu keinginan. Jadikanlah kegagalan  sebagai  cambuk  agar  tidak  mengalaminya  lagi  di kemudian hari.

2. Memiliki jiwa Berkorban

Perhatikan  bagaimana  para  pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. Selain  mereka  berjuang  dengan tangguh  dan  pantang  menyerah,  mereka rela  mengorbankan  apa  saja  untuk  kemerdekaan  bangsa  ini.  Pengorbanan mereka tidak hanya berupa harta, keluarga yang  ditinggalkan,  bahkan  mereka  rela meregang nyawa untuk memperjuangkan

kemerdekaan beragama dan berbangsa.

Oleh  karena  itu,  janganlah  merasa berjuang tanpa memberikan pengorbanan yang berarti. Perilaku yang mencerminkan jiwa berkorban dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seperti berikut.

a.  Menyisihkan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan yang bermanfaat.

Hal ini pentng mengingat waktu yang kita miliki sangatlah terbatas. Jika waktu yang kita gunakan lebih banyak untuk kegiatan yang percuma, siap-siaplah untuk menyesal karena waktu yang telah lewat tdak akan kembali lagi.

Misalkan  karena  kamu  tdak  belajar  dengan  sungguh-sungguh sementara kamu ingin lulus dengan nilai yang tinggi, kamu akan menyesal karena mendapatkan nilai yang rendah dan harus mengulang lagi.

b.  Mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Kepentingan  bersama  di  atas  segala-galanya.  Itulah  kalimat  yang sering diungkapkan oleh kebanyakan manusia. Akan tetapi, kenyataannya belum  tentu  demikian.  Kebanyakan  manusia  lebih  mengutamakan kepentingan  pribadinya  daripada  kepentingan  orang  banyak.  Sebagai orang yang beriman, tentu kita tdak boleh termasuk ke dalam golongan orang yang demikian. Rasulullah saw. mencontohkan, bagaimana ketika ia hendak berbuka puasa dengan sepotong roti, sementara ada orang yang datang untuk meminta roti tersebut karena sangat kelaparan, dan Rasul memberikan roti tersebut kepada orang itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku yang dapat kita lakukan dalam hal ini misalnya saat antre di tempat umum, di bank, loket pembayaran, berkendara di mana lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna merah menyala, dan lain sebagainya.

c.  Menyisihkan  sebagian  harta  untuk  membantu  orang  lain  yang membutuhkan.

Dalam  harta  kita  terdapat  sebagian  hak  orang  lain  yang membutuhkannya.  Islam  mengajarkan  bahwa  bersedekah  itu  tdak  akan mengurangi harta sedikit pun, bahkan ia akan mendatangkan harta yang lebih banyak lagi

Silahkan melakukan absensi dengan klik link di bawah ini

Absensi Kelas X 1 Februari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUMBER HUKUM ISLAM (AL-QUR'AN)

KELAS XI : BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN DAN ETOS KERJA