KELAS X : Meneladani Perjuangan Rasulullah Saw di Mekah (Bagian 3)
B. Reaksi Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah saw.
Sebagaimana yang telah
disinggung pada bagian
sebelumnya, kaum kafir Quraisy terus berupaya
menggalang kekuatan agar Rasulullah saw. dan upayanya dalam penyebaran ajaran
Islam dapat dihentikan. Berbagai upaya mereka lakukan, mulai mengajak berdialog dengan
mengiming-imingi berbagai bantuan hingga kekerasan yang dilakukan terhadap
Rasulullah saw. dan para sahabat
serta pengikut ajarannya.
Puncak dari kejengkelan
mereka dengan cara memboikot
Rasulullah saw. dan para sahabatnya serta pengikutnya dari boikot ekonomi dan
politk.
Apa yang menyebabkan
mereka begitu keras
menolak dan geram terhadap ajaran yang dibawa Rasulullah
saw.? Apa yang salah dengan ajaran tentang kebenaran dan kasih sayang yang
merupakan idaman semua manusia beradab? Sebetulnya mereka mengetahui dan
memahami betul bahwa ajaran Ilahi yang dibawa Rasulullah saw. adalah ajaran
yang lurus, benar, dan haq.
Ada beberapa alasan
kaum kafir menolak
dan menentang ajaran
yang dibawa Rasulullah saw, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Kesombongan dan Keangkuhan
Bangsa Arab jahiliah
dikenal sebagai bangsa
yang sangat angkuh
dan sombong. Mereka menganggap bahwa semua yang telah mereka lakukan adalah sesuatu
yang benar. Mereka
menganggap bahwa tdak
salah dengan apa yang
mereka lakukan. Kesombongan
mereka tercermin dari sya’ir-sya’ir yang mereka buat,
terutama kesombongan kaum Quraisy yang merasa suku
mereka yang paling terhormat dan paling berpengaruh. Mereka memandang bahwa
mereka lebih mulia dan tnggi derajatnya dari golongan bangsa Arab
lainnya. Mereka tdak menerima ajaran persamaan hak dan
derajat yang dibawa
Islam. Oleh karenanya,
mengakui dan menerima ajaran
Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. akan menurunkan dan menjatuhkan
derajat dan martabat
serta mengancam kedudukan mereka.
2. Fanatisme
Buta terhadap leluhur
Kebiasaan yang telah
mengakar kuat dan
turun-temurun dalam melaksanakan penyembahan Berhala dan kemusyrikan
lainnya, menyebabkan mereka sangat
sulit menerima ajaran tauhid dan
menyembah Allah Swt. yang Ahad.
Kebiasaan tersebut sudah
mengkristal dan berakar, mereka sangat sulit diberikan
pemahaman bertauhid. Tuhan bagi mereka diwujudkan dalam bentuk Berhala-berhala yang mereka buat
sendiri sejak ratusan tahun lalu. Fanatisme
terhadap ajaran leluhur
jelas-jelas telah menenggelamkan
mereka ke dalam kesesatan yang nyata.
fakta tersebut ditegaskan
oleh allah swt. dalam frmannya: “dan apabila dikatakan kepada mereka, “marilah mengikuti apa yang diturunkan allah swt. dan (mengikuti) rasul.” mereka menjawab, “cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).” apakah (mereka
akan mengikuti) juga nenek moyang
mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk͍͟.” (q.s.
al-mā’idah/5:104)
3. Eksistensi dan Persaingan Kekuasaan
Penolakan mereka terhadap ajaran Rasulullah saw. secara politis dapat melemahkan eksistensi
dan pengaruh kekuasaan
mereka. Jika mereka menerima Rasulullah saw. dengan ajaran
yang dibawanya, tentu saja akan berakibat
pada lemahnya pengaruh
dan kekuasaan mereka.
Kekuasaan dan pengaruh yang
selama ini mereka
dapatkan dengan menghalalkan berbagai cara,
tentu sangat bertolak
belakang dengan ajaran
Rasulullah saw. Itulah sebabnya, mereka mati-matian͟ mempertahankan
eksistensi dan keberadaan mereka untuk menolak Rasulullah saw.
C. Contoh-Contoh
Penyiksaan Quraisy terhadap
Rasulullah saw. dan
Para Pengikutnya
Berikut adalah contoh-contoh penyiksaan kafr Quraisy terhadap
Rasulullah saw. dan para pengikutnya.
1. Suatu hari,
Abu Jahal melihat
Rasulullah saw. di shafa,
ia mencerca dan menghina
tetapi tidak ditanggapi
oleh Rasulullah saw.
dan ia beranjak pulang. Kemudian, Abu Jahal pun
bergabung dengan kelompoknya kaum Quraisy di samping Ka͛bah. Mendengar kejadian
tersebut, Hamzah, paman Rasulullah
saw., marah seraya
bangkit mencari Abu
Jahal. Ia kemudian menemukan Abu
Jahal yang sedang
duduk di samping
Ka’bah dengan kelompoknya kaum Quraisy.
Dan tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat busur dan
memukulkannya ke kepala
Abu Jahal hingga
tengkoraknya terluka.
“Engkau mencerca dia
(Rasulullah saw.), padahal
aku sudah memeluk agamanya. Aku
menempuh jalan yang ia tempuh. Jika mampu, ayo, lawan aku!” tantang Hamzah.
2. Suatu hari, Uqbah bin
Abi Mu’it melihat
Rasulullah saw. bertawaf, lalu menyiksanya. Ia
menjerat leher Rasulullah
saw. dengan sorbannya
dan menyeret ke luar
masjid. Beberapa orang
datang menolong Rasulullah saw. karena takut kepada Bani
Hasyim.
3. Penyiksaan lain
dilakukan oleh pamannya
sendiri, yaitu Abu
Lahab dan istrinya Ummu Jamil
yang tada tara kejinya. Rasulullah saw. bertetangga dengan mereka. Mereka tak
pernah berhenti melemparkan barang-barang kotor
kepadanya. Suatu hari
mereka melemparkan kotoran
domba ke kepala Nabi. Sekali lagi
Hamzah membalasnya dengan menimpakan barang yang sama ke kepala Abu Lahab.
4. Quraisy memboikot kaum muslimin
Kaum Quraisy memutuskan segala bentuk hubungan perkawinan dan perdagangan dengan
Bani Hasyim. Persetujuan
pemboikotan ini dibuat dalam
bentuk piagam, ditandatangani bersama
dan digantungkan di Ka͛bah.
Peristwa ini terjadi
pada tahun ke-7
kenabian dan berlangsung selama tga tahun. Pemboikotan ini
mengakibatkan kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan bagi kaum muslimin. Untuk
meringankan penderitaan kaum muslimin, mereka pindah ke suatu lembah di luar
Kota Mekah.
D. Perjanjian Aqabah
Kerasnya penolakan dan perlawanan Quraisy, mendorong Nabi Muhammad saw. melancarkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah Arab di luar suku Quraisy. Dalam melakukan dakwah ini, Nabi Muhammad saw. tidak saja menemui mereka di Ka’bah pada saat musim haji, ia juga mendatangi perkampungan dan tempat tinggal para kepala suku. danpa diketahui oleh seorang pun, Nabi Muhammad saw. pergi ke Tha’if. Di sana ia menemui Taqif dengan harapan agar ia dan masyarakatnya mau menerimanya dan memeluk Islam. Taqif dan masyarakatnya menolak Nabi dengan kejam. Meski demikian, Nabi berlapang dada dan meminta Taqif untuk tdak menceritakan kedatangannya ke Tha’if agar ia tidak mendapat malu dari orang Quraisy. Permintaan itu tdak dihiraukan oleh Taqif, bahkan ia menghasut masyarakatnya untuk mengejek, menyoraki, mengusir, dan melempari Nabi. Selain itu, Nabi mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani Amir bin Sa‘sa’ah ke rumah-rumah mereka. Tak seorang pun dari mereka yang mau menyambut dan mendengar dakwah Nabi. Bahkan, Bani Hanifah menolak dengan cara yang sangat buruk. Amir menunjukkan ambisinya, ia mau menerima ajakan Nabi dengan syarat jika Nabi memperoleh kemenangan, kekuasaan harus berada di tangannya.
Pengalaman tersebut mendorong Nabi Muhammad saw. berkesimpulan bahwa tidak mungkin lagi mendapat dukungan dari Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. mengalihkan dakwahnya kepada kabilah-kabilah lain yang ada di sekitar Mekah yang datang berziarah setiap tahun ke Mekah. Jika musim ziarah tiba, Nabi Muhammad saw. pun mendatangi kabilah-kabilah itu dan mengajak mereka untuk memeluk Islam. Tak berapa lama kemudian, tanda-tanda kemenangan datang dari Yatsrib (Madinah). Nabi Muhammad saw. sesungguhnya mempunyai hubungan emosional dengan Yatsrib. Di sanalah ayahnya dimakamkan, di sana pula terdapat famili-familinya dari Bani Najjar yang merupakan keluarga kakeknya, Abdul Muthalib dari pihak ibu. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila di tempat ini kelak Nabi Muhammad saw. mendapat kemenangan dan Islam berkembang dengan amat pesat.
Yatsrib merupakan kota yang dihuni oleh orang yahudi dan Arab dari suku
Aus dan Khazraj. Kedua suku ini selalu berperang merebut kekuasaan. Hubungan Aus
dan Khazraj dengan yahudi membuat mereka
memiliki pengetahuan tentang agama samawi.
Inilah salah satu
faktor yang menyebabkan
kedua suku Arab tersebut lebih mudah menerima kehadiran Nabi Muhammad
saw. Ketika yahudi mengalami kekalahan, suku Aus dan Khazraj menjadi penguasa di
Yatsrib. Yahudi tidak tinggal diam, mereka berusaha mengadu domba Aus dan Khazraj
yang akhirnya menimbulkan perang saudara yang dimenangkan oleh Aus. Sejak saat
itu, orang-orang yahudi yang sebelumnya terusir dapat
kembali tinggal di Yatsrib. Aus dan Khazraj menyadari derita dan
kerugian yang mereka alami akibat permusuhan mereka. Oleh karena itu, mereka
sepakat mengangkat Abdullah bin Muhammad dari suku Khazraj sebagai pemimpin. Namun,
hal itu tidak terlaksana. Hal ini disebabkan beberapa orang Khazraj pergi ke
Mekah pada musim ziarah(haji).
Kedatangan orang-orang Khazraj ke Mekah diketahui oleh Nabi Muhammad saw., dan ia pun segera menemui mereka. Setelah Nabi berbicara dan mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, mereka pun saling berpandangan dan salah seorang dari mereka berkata,“Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan oleh orang-orang yahudi kepada kita, dan jangan sampai mereka (yahudi) mendahului kita.” Setelah itu, mereka kembali ke Yatsrib dan menyampaikan berita kenabian Muhammad saw. Mereka menyatakan kepada masyarakatnya bahwa mereka telah menganut Islam. Berita dan pernyataan yang mereka sampaikan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Pada musim
Ziarah tahun berikutnya, datanglah 12 orang penduduk Yatsrib menemui Nabi Muhammad saw. di Aqabah. Di tempat ini mereka berikrar kepada Nabi yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Aqabah I. Pada Perjanjian Aqabah I ini, orang-orang Yatsrib berjanji kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik di depan atau di belakang, jangan menolak berbuat kebaikan. Siapa mematuhi semua itu akan mendapat pahala surga dan kalau ada yang melanggar, persoalannya kembali kepada Allah Swt.
Selanjutnya, Nabi menugaskan Mus’ab bin Umair untuk membacakan al-Qur’an, mengajarkan Islam serta seluk-beluk agama Islam kepada penduduk Yatsrib. Sejak itu, Mus’ab tinggal di Yatsrib. Jika musim ziarah tiba, ia berangkat ke Mekah dan menemui Nabi Muhammad saw. Dalam pertemuan itu, Mus’ab menceritakan perkembangan masyarakat muslim Yatsrib yang tangguh dan kuat. Berita ini sungguh menggembirakan Nabi dan menimbulkan keinginan dalam hati Nabi untuk hijrahke sana.
Pada tahun 622 M, peziarah Yatsrib yang datang ke Mekah berjumlah 75 orang, dua orang di antaranya perempuan. Kesempatan ini digunakan Nabi melakukan pertemuan rahasia dengan para pemimpin mereka. Pertemuan Nabi dengan para pemimpin Yatsrib yang berziarah ke Mekah disepakati di Aqabah pada tengah malam pada hari-hari Tasyrik (tidak sama dengan hari Tasyrik yang sekarang). Malam itu, Nabi Muhammad saw. ditemani oleh pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib (yang masih memeluk agama nenek moyangnya) menemui orang-orang Yatsrib. Pertemuan malam itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perjanjian Aqabah II. Pada malam itu, mereka berikrar kepada Nabi sebagai berikut, “Kami berikrar, bahwa kami sudah mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan di jalan Allah Swt. ini kami tdak gentar terhadap ejekan dan celaan siapapun.
Setelah masyarakat Yatsrib menyatakan ikrar mereka, Nabi berkata kepada
mereka, “Pilihkan buat saya dua belas orang pemimpin dari kalangan kalian yang
menjadi penanggung jawab masyarakatnya”. Mereka memilih sembilan orang dari Khazraj
dan tiga orang dari Aus. Kepada dua belas orang itu, Nabi mengatakan, Kalian
adalah penanggung jawab
masyarakat kalian seperti pertangungjawaban pengikut-pengikut
Isa bin Maryam. Terhadap masyarakat saya,
sayalah yang bertanggung
jawab. Setelah ikrar selesai,
tiba-tiba terdengar teriakan , “Muhammad
dan orang-orang murtad itu
sudah berkumpul akan
memerangi kamu!”. Semua kaget dan terdiam. diba-tba Abbas bin Ubadah,
salah seorang peserta ikrar, berkata
kepada Nabi, “Demi
Allah Swt. yang
mengutus Anda berdasarkan kebenaran, jika Nabi mengizinkan,
besok penduduk Mina akan kami ‘habisi’ dengan
pedang kami. Lalu, Nabi
Muhammad saw. menjawab,
Kita tidak diperintahkan
untuk itu, kembalilah
ke kemah kalian!”
Keesokan harinya, mereka bangun
pagi-pagi sekali dan segera bergegas pulang ke Yatsrib.
E. Peristiwa hijrah Kaum Muslimin
1. Hijrah ke Abisinia (Habsyi)
Untuk menghindari bahaya penyiksaan, Nabi Muhammad saw. menyarankan para pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia (Habsyi). Para sahabat pergi ke Abisinia dengan dua kali hijrah. Hijrah pertama sebanyak 15 orang; sebelas orang laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka berangkat secara sembunyi-sembunyi dan sesampainya di sana, mereka mendapatkan perlindungan yang baik dari Najasyi (sebutan untuk Raja Abisinia). Ketika mendengar keadaan Mekah telah aman, mereka pun kembali lagi. Namun, mereka kembali mendapatkan siksaan melebihi dari sebelumnya. Karena itu, mereka kembali hijrah untuk yang kedua kalinya ke Abisinia (tahun kelima dari kenabian atau tahun 615 M). Kali ini mereka berangkat sebanyak 80 orang laki-laki, dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Mereka tinggal di sana hingga sesudah Nabi hijrah ke Yatsrib (Madinah). Peristwa hijrah ke Abisinia ini dipandang sebagai hijrah pertama dalam Islam.
Peristwa hijrah ke Abisinia ini
sungguh tdak menyenangkan
kaum Quraisy dan menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar. Ada dua hal
yang dikhawatirkan oleh
kaum Quraisy, yaitu
pertama, kaum muslimin akan dapat menjalin hubungan yang
luas dengan masyarakat Arab. Kedua, kaum muslimin akan menjadi kuat dan kembali
ke Mekah untuk menuntut balas. Oleh karena
itu, mereka mengutus
Amr bin ‘Ash dan
Abdullah bin Rabi’ah kepada
Najasyi agar mau
menyerahkan kaum muslimin
yang berhijrah ke sana. Dengan mempersembahkan hadiah yang besar kepada Najasyi, kedua
utusan itu berkata,
“Paduka Raja, mereka
yang datang ke negeri
tuan ini adalah
budak-budak kami yang
tdak mempunyai malu. Mereka
meninggalkan agama nenek
moyang mereka dan tidak
pula menganut agama
Paduka; mereka membawa
agama yang mereka ciptakan sendiri,
yang tidak kami
kenal dan tidak
juga Paduka pahami.
Kami diutus oleh pemimpin-pemimpin mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman mereka, dan keluarga-keluarga mereka supaya Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada pemimpin-pemimpin kami. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan mencerca agama mereka.”
Najasyi kemudian memanggil
kaum muslimin dan
bertanya kepada mereka, “Agama
apa ini sampai
membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri?”
Kaum muslimin yang diwakili oleh Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Paduka Raja,
masyarakat kami masyarakat yang bodoh,
menyembah berhala, memakan
bangkai, melakukan berbagai macam kejahatan,
memutuskan hubungan dengan
kerabat, tidak baik dengan tetangga; yang kuat menindas yang
lemah. Demikianlah keadaan masyarakat kami hingga Allah Swt. mengutus seorang
rasul dari kalangan kami sendiri yang
kami kenal asal
usulnya, jujur, dapat
dipercaya, dan bersih. Ia
mengajak kami hanya menyembah kepada Allah Swt. Yang Maha Esa, meninggalkan
batu-batu dan patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami sembah.
Ia melarang kami berdusta, menganjurkan untuk berlaku jujur, menjalin hubungan
kekerabatan, bersikap baik kepada
tetangga, dan menghentkan
pertumpahan darah. Ia
melarang kami melakukan segala
perbuatan jahat, menggunakan kata-kata dusta dan keji, memakan harta
anak yatm, dan
mencemarkan nama baik
perempuan yang tak bersalah.
Ia meminta kami
menyembah Allah Swt.
dan tidak mempersekutukan-Nya. Jadi,
yang kami sembah
hanya Allah Swt.
Yang tunggal, tidak mempersekutukan-Eya dengan apa dan siapa pun. Segala
yang diharamkan kami
jauhi dan yang
dihalalkan kami lakukan.
Karena itulah kami dimusuhi, dipaksa meninggalkan agama kami. Karena
mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, kami pun keluar menuju negeri
Paduka ini. Padukalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di
dekat Paduka, dengan harapan di sini tdak ada penganiayaan.
Mendengar pernyataan yang demikian fasih dan santun, akhirnya Raja Najasyi memberikan perlindungan kepada kaum muslimin hingga kemudian mereka hidup untuk beberapa lama di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya.
2. Hijrah ke Madinah
Peristwa Ikrar Aqabah II ini diketahui oleh orang-orang Quraisy. Sejak itu tekanan, intimidasi, dan
siksaan terhadap kaum
muslimin makin meningkat. Kenyataaan
ini mendorong Nabi segera
memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu
dua bulan saja, hampir semua kaum muslimin, sekitar 150 orang telah berangkat
ke Yatsrib. Hanya Abu bakar dan Ali yang masih menjaga dan membela Nabi di
Mekah. Akhirnya, Nabi pun hijrah setelah mendengar rencana Quraisy yang ingin membunuhnya.
Nabi Muhammad saw. dengan ditemani oleh Abu Bakar berhijrah ke Yatsrib.
Sesampai di Quba, 5 km dari Yatsrib, Nabi beristrahat dan tinggal di sana
selama beberapa hari. Nabi menginap di rumah Umi Kalsum bin Hindun. Di
halaman rumah ini
Nabi membangun sebuah
masjid. Inilah masjid pertama
yang dibangun pada masa Islam yang kemudian dikenal dengan Masjid
Quba. Tak lama
kemudian, Ali datang
menyusul setelah menyelesaikan amanah
yang diserahkan Nabi
kepadanya pada saat berangkat hijrah.
Ketika Nabi memasuki
Yatsrib, ia dielu-elukan
oleh penduduk kota itu
dan menyambut kedatangannya
dengan penuh kegembiraan.
Sejak itu, nama Yatsrib diganti dengan Madinatun Nabi (kota Nabi) atau
sering pula disebut dengan Madinatun Munawwarah (kota yang
bercahaya). Dikatakan demikian karena memang dari sanalah sinar Islam
memancar ke seluruh penjuru dunia.
Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw.
pada periode Mekah di antaranya adalah seperti berikut.
1. Memiliki Sikap Tangguh
Dalam upaya meraih kesuksesan, diperlukan sikap tangguh dan pantang menyerah sebagaimana yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw. ketka
ia berjuang memberantas kemusyrikan. Lihat pula bagaimana orang-orang yang sukses meraih
cita-citanya, mereka bersusah-payah berusaha terus-menerus tanpa mengenal
lelah, sehingga mereka menjadi orang yang berhasil dalam cita-citanya. Tidak
ada perjuangan tanpa
pengorbanan dan tidak
ada pula kesuksesan tanpa kerja
keras dan tangguh pantang menyerah.
Ketangguhan tidak datang dengan
sendirinya. Ia memerlukan
pembelajaran dan latihan (riyadlah)
secara terus menerus. Ketangguhan
juga harus didukung oleh
kesehatan fisik dan pemahaman
yang benar. Kedua-duanya harus berjalan
beriringan dan saling mendukung. Kekuatan
fisik dibarengi dengan pemahaman
yang benar akan melahirkan manfaat yang besar, demikian
pula sebaliknya.
Sikap
tangguh dalam kehidupan sehari-hari, baik
di lingkungan keluarga,
sekolah, maupun masyarakat
di antaranya, seperti berikut.
a. Menggunakan waktu untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan prestasi yang tinggi.
b. Secara terus-menerus mencoba sesuatu yang belum dapat dikerjakan sampai ditemukan solusi untuk mengatasinya.
c.
Melaksanakan segala peraturan
di sekolah sebagai
bentuk pengamalan sikap disiplin
dan tanggung jawab.
d. Menjalankan
segala perintah agama
dan menjauhi larangannya dengan
penuh keikhlasan.
e. Tidak
putus asa ketika mengalami kegagalan dalam meraih suatu keinginan. Jadikanlah kegagalan sebagai
cambuk agar tidak
mengalaminya lagi di kemudian hari.
2. Memiliki jiwa Berkorban
Perhatikan
bagaimana para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan
bangsa ini. Selain mereka berjuang
dengan tangguh dan pantang
menyerah, mereka rela mengorbankan
apa saja untuk
kemerdekaan bangsa ini.
Pengorbanan mereka tidak hanya berupa harta, keluarga yang ditinggalkan,
bahkan mereka rela meregang nyawa untuk memperjuangkan
kemerdekaan beragama dan berbangsa.
Oleh
karena itu, janganlah
merasa berjuang tanpa memberikan pengorbanan yang berarti. Perilaku yang
mencerminkan jiwa berkorban dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seperti
berikut.
a.
Menyisihkan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan yang bermanfaat.
Hal ini pentng mengingat waktu yang kita miliki
sangatlah terbatas. Jika waktu yang kita gunakan lebih banyak untuk kegiatan
yang percuma, siap-siaplah untuk menyesal karena waktu yang telah lewat tdak
akan kembali lagi.
Misalkan
karena kamu tdak
belajar dengan sungguh-sungguh sementara kamu ingin lulus
dengan nilai yang tinggi, kamu akan menyesal karena mendapatkan nilai yang
rendah dan harus mengulang lagi.
b.
Mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Kepentingan
bersama di atas
segala-galanya. Itulah kalimat
yang sering diungkapkan oleh kebanyakan manusia. Akan tetapi,
kenyataannya belum tentu demikian.
Kebanyakan manusia lebih
mengutamakan kepentingan
pribadinya daripada kepentingan
orang banyak. Sebagai orang yang beriman, tentu kita tdak
boleh termasuk ke dalam golongan orang yang demikian. Rasulullah saw.
mencontohkan, bagaimana ketika ia hendak berbuka puasa dengan sepotong roti,
sementara ada orang yang datang untuk meminta roti tersebut karena sangat
kelaparan, dan Rasul memberikan roti tersebut kepada orang itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku yang
dapat kita lakukan dalam hal ini misalnya saat antre di tempat umum, di bank,
loket pembayaran, berkendara di mana lampu lalu lintas sedang menunjukkan warna
merah menyala, dan lain sebagainya.
c.
Menyisihkan sebagian harta
untuk membantu orang
lain yang membutuhkan.
Dalam
harta kita terdapat
sebagian hak orang
lain yang membutuhkannya. Islam
mengajarkan bahwa bersedekah
itu tdak akan mengurangi harta sedikit pun, bahkan ia
akan mendatangkan harta yang lebih banyak lagi

Komentar
Posting Komentar