MATERI KELAS X SEMESTER 1 : Mujahadah an-Nafs, Husnuzhan, dan Ukhuwwah (BAGIAN 2)

Selain kontrol diri, seorang muslim hendaknya berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah Swt., diri sendiri, dan kepada sesama manusia.

1)  Husnuzhan kepada Allah Swt.

Berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, artinya bahwa Allah Swt. memiliki sifat Maha sempurna, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua ciptaan-Nya. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis:

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Allah  ta’ala  berfirman:  ”Aku  sesuai  persangkaan  hamba-Ku,  Aku bersamanya ketika mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun alaih)

Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa jika seseorang berprasangka baik kepada Allah Swt., maka Allah Swt. juga akan berprasangka baik kepadanya.  Mengapa seorang muslim wajib berprasangka baik kepada Allah Swt.?. Dikarenakan ada keterbatasan pada manusia, manusia hanya mengetahui segala sesuatu yang tersurat dari yang nampak secara realita, sementara yang tersirat dari rahasia-rahasia Allah Swt. manusia tidak memiliki pengetahuannya. Untuk itu manusia harus berprasangka baik, karena boleh jadi hasil pilihan yang diperoleh dari hasil analisa pikirannya dianggap baik, justru sesungguhnya berakibat buruk atau sebaliknya yang dianggap buruk, sesungguhnya merupakan hal yang baik baginya. Perwujudan husnuzhan kepada Allah Swt. antara lain:

a)  Husnuzhan dalam bertaqwa

Bertaqwa  pada  Allah  Swt.  artinya  melaksanakan  segala  perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. Husnuzhan dalam bertaqwa pada Allah Swt. artinya meyakini bahwa semua perintah Allah Swt. adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Begitu juga semua larangan-Nya pasti akan berakibat buruk apabila dilanggar. 

b)  Husnuzhan dalam berdoa

Berdoa merupakan permohonan atas segala yang diinginkan seseorang. Seorang muslim yang memahami Husnuzhan pada Allah Swt. dalam berdoa akan yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah Swt., namun bila belum dikabulkan, maka ia akan berfikir inilah yang terbaik dan ia akan menerimanya dengan penuh keikhlasan. 

c)  Husnuzhan dalam berikhtiar dan bertawakal

Ikhtiar merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan hal yang dicita-citakan. Dalam berikhtiar sikap Husnuzhan kepada Allah Swt. harus dikembangkan, karena tidak semua ikhtiar yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam berikhtiar harus selalu digandengkan dengan sikap tawakal yaitu menyerahkan hasil ikhtiarnya hanya kepada Allah Swt. semata, sehingga ketika ikhtiarnya berhasil maka ia akan bersyukur dan ketika gagal ia akan bersabar dengan tidak berputus asa. 

2)  Husnuzhan kepada orang lain

Husnuzhan kepada orang lain artinya seluruh ucapan, sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang akan diterima apa adanya tanpa diringi oleh prasangka atau dugaan-dugaan yang bersifat negatif.

Mengembangkan sikap husnuzhan kepada orang lain dapat dilakukan dengan cara berusaha untuk melihat kebaikan orang lain dan mengakuinya dengan jujur atas segala kelebihan yang dimilikinya. Sebaliknya, berusahalah untuk melupakan segala keburukan orang lain yang pernah dilakukannya kepada diri kita.

Begitu juga, berusahalah untuk mengingat keburukan yang pernah kita lakukan pada orang dan berusahalah untuk tidak mengulangnya kembali. Sebaliknya, berusahalah untuk mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah orang lakukan untuk kita. Sebagai muslim, juga harus hidup berdampingan dengan sesama muslim yang lain serta menghormati hak dan kewajibannya. Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang dengan muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (H.R. Tirmidzi)

Hadis tersebut menjelaskan seorang muslim harus menjaga lisannya. Ucapan kepada orang lain terutama sesama muslim, harus lemah lembut dan tidak mengandung kebohongan. Guna menghindari buruk sangka terhadap seseorang, Islam mengajarkan untuk melakukan tabayyun (konfirmasi) bila mendapat informasi negatif tentang seseorang, Islam sangat melarang umatnya untuk secara gegabah mempercayai apalagi merespon negatif sebuah informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar informasi yang didengar tidak menimbulkan prasangka buruk yang berakibat buruk pada orang yang diberitakan. Muslim sejati selalu menjaga lisannya sebagai bentuk husnuzhan kepada orang lain.

3)  Husnuzhan kepada diri sendiri

Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri, akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, seharusnya manusia senantiasa mensyukuri apapun yang sudah diberikan oleh Allah Swt. dan tidak perlu merasa rendah diri di hadapan orang lain. Boleh jadi kekurangan yang dimiliki oleh seseorang justru itulah kelebihan yang dimilikinya.

Dengan menyadari kelebihan yang ada pada dirinya, maka timbul sikap yang penuh harapan, tidak mudah putus asa ketika menghadapi tantangan hidup bahkan bersikap optimis dengan bekerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja mawas, dan kerja tuntas. Dengan menyadari kekurangan pada dirinya, maka berusaha untuk memperbaikinya dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan.

Seseorang akan mendapatkan banyak hikmah dari perilaku kontrol diri dan berprasangka baik (husnuzhan).

Di antara hikmah perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs) sebagai berikut:

1)  meningkatnya sifat sabar, dengan tidak cepat memberikan reaksi terhadap permasalahan yang timbul

2)  dapat mencegah perilaku buruk atau negatif dari seseorang

3)  mendapatkan penilaian yang positif dari lingkungan

4)  terbinanya hubungan baik dalam berinteraksi sosial dengan sesama.

Sedangkan hikmah perilaku berprasangka baik (husnuzhan) di antaranya sebagai berikut:

1)  senantiasa bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan

2)  terbentuknya sifat percaya diri dalam diri seseorang

3)  gigih, ulet, tangguh dalam melakukan ikhtiarnya, sehingga tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan

4)  rida terhadap takdir Allah Swt., karena tugas manusia hanya berusaha dan yang menentukan adalah Allah Swt.


Menerapkan Perilaku Kontrol Diri (Mujahadah an-Nafs) dan Prasangka Baik (Husnuzhan) untuk Meraih Hidup Bahagia

Kontrol diri dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.

1) Menghindari dan menjauhi perbuatan dosa dan maksiat

Renungkanlah dampak negatif perbuatan dosa dan maksiat, dan renungkanlah akibat positif beramal saleh. Setiap perbuatan dosa dan maksiat, akan berakibat buruk bagi diri sendiri, misalnya hati gelisah, tidak tenang, dan merasa jauh dari Allah Swt. Sebaliknya, amal saleh akan berakibat positif bagi dirinya, misalnya hidup tenang, optimis, merasa dekat dengan Allah Swt.

2) Mengarahkan seluruh aktivitas hidup untuk meraih rida Allah Swt.

Seluruh aktivitas hidup manusia akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Maka, niatkan dan arahkan seluruh aktivitas hidup untuk beribadah guna meraih ridha Allah Swt.

3) Menahan dan mengendalikan hawa nafsu

Jika ada bisikan hawa nafsu untuk melakukan maksiat, maka segera minta perlindungan Allah Swt. dengan membaca ta’awudz.

4) Memperbanyak dan membiasakan dzikir kepada Allah Swt. (dzikrullah)

Dzikir akan membuat hati tenang dan dekat dengan Allah Swt. Ketenangan hati akan menjadikan diri kita kuat menahan godaan hawa nafsu. Kedekatan kita dengan Allah Swt. akan semakin menambah kekuatan dalam melawan hawa nafsu.

Sedangkan husnuzhan kepada Allah Swt. dapat dilakukan dengan tiga sikap, yaitu sebagai berikut :

a.  Selalu yakin bahwa Allah Swt. akan senantiasa memberi yang terbaik bagi hamba-Nya

b. Selalu mensyukuri nikmat dari Allah Swt. Rasa syukur dapat diungkapkan dengan mengucapkan hamdalah, dan menggunakan nikmat tersebut sesuai kehendak Allah Swt.

c.  Bersikap tawakal, sabar, dan ikhlas atas semua cobaan dan ujian dari Allah Swt. Ingatlah bahwa Allah Swt. tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya dan semua cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. pasti ada hikmahnya


Husnuzhan kepada orang lain dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut:

1)  Melihat seseorang dari sisi baiknya, ditunjukkan dengan rasa senang, dan berpikir positif

2)  Selalu memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya

3)  Bersikap hormat pada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas

4)  Selalu mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh seseorang

5)  Melupakan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. 


Husnuzhan kepada diri sendiri dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut.

1)  Yakin bahwa dirinya mampu melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain

2)  Selalu yakin dapat menyelesaikan semua masalah, tantangan hidup, dan tidak mudah putus asa bila menemui kesulitan atau kegagalan

3)  Berusaha sekuat tenaga untuk mencapai semua keinginan dengan kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas, penuh dengan inisiatif untuk meraih cita-cita


Q.S. al-Hujurat/49: 10 tentang Persaudaraan (ukhuwwah)

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. alHujurat/49: 10)

Asbabun nuzul Q.S. al-Hujurat/49: 10

“Anas r.a. berkata: “Dikatakan kepada Nabi Saw. “Sebaiknya Baginda menemui ‘Abdullah bin Ubay.” Maka Nabi Saw.menemuinya dengan menunggang keledai, sedangkan kaum muslim berangkat bersama Beliau dengan berjalan kaki melintasi tanah yang tandus. Ketika Nabi Saw. menemuinya, ia berkata: “Menjauhlah dariku, demi Allah, bau keledaimu menggangguku”. Maka berkatalah seseorang dari kaum Anshar di antara mereka: “Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah Saw. lebih baik daripada kamu”, maka seseorang dari kaumnya marah demi membela ‘Abdullah bin Ubay dan ia mencelanya, sehingga marahlah setiap orang dari masing-masing kelompok. Saat itu kedua kelompok saling memukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Kemudian sampai kepada kami bahwa telah turun ayat Q.S. al-Hujurat ayat 10  yang  artinya  ("jika  dua  kelompok  dari  kaum muslimin berperang maka damaikan keduanya”). (H.R. Bukhari)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara. Inti dari persaudaraan (ukhuwwah) adalah adanya persamaan, semakin banyak persamaan di antara sesama, maka akan semakin kokoh jalinan persaudaraan di antara sesama manusia. Sementara itu, persaudaraan (ukhuwwah) dibagi tiga, yaitu:

1) Ukhuwwah Islamiyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama memiliki persamaan agama dan keyakinan.

2) Ukhuwwah Wathaniyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama satu bangsa dan keterikatan keturunan tanpa membedakan suku, agama, warna kulit, adat istiadat, budaya dan aspek-aspek lainnya..

3) Ukhuwwah Insaniyah atau Basyariyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama sebagai sesama manusia secara universal, tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, warna kulit dan aspek-aspek lainnya. 

Ketiga persaudaraan (ukhuwwah) tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan, dan tidak boleh berdiri sendiri. Melaksanakan ketiga ukhuwwah tersebut secara bersamaan akan memperkuat tegaknya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tenteram. Lebih dari itu Akan memunculkan solidaritas dan timbulnya kepedulian sosial di masyarakat.

Sebagai sesama mukmin, maka kita harus mampu menjaga martabat dan kehormatan sesama mukmin.Persaudaraan sesama mukmin harus selalu dijaga agar semakin kokoh. Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda :

Artinya: “Dari Abu Musa meriwayatkan dari Nabi Saw. Bahwa beliau bersabda: “kaum mukmin adalah bersaudara satu sama lain ibarat (bagian-bagian dari) suatu bangunan satu bagian memperkuat bagian lainnya.” dan beliau menyelipkan jari-jari disatu tangan dengan tangan yang lainnya agar kedua tangannya tergabung.” (H.R. Bukhari)

Adanya persaudaraan (ukhuwwah)  yang kuat akan menjadikan kehidupan yang harmonis, diliputi rasa saling mencintai, saling menjaga perdamaian dan persatuan. Untuk memperkokoh persaudaraan (ukhuwwah) maka lakukanlah hal-hal berikut ini:

1) Ta’aruf, saling mengenal antara umat Islam bukan hanya penampilan fisik namun juga tentang ide, gagasan dan lain sebagainya.

2) Tafahum, dengan saling mengenal antara sesama umat Islam, maka akan timbul sikap berusaha untuk memahami saudaranya.

3) Ta’awun, setelah saling memahami sudah terjalin, maka akan timbul sikap saling mendoakan dan saling menolong.

4) Takaful, jika ketika sikap tersebut sudah terlaksana dengan baik maka akan timbul sikap senasib dan sepenanggungan seperti yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Anshar Madinah terhadap sahabat-sahabat Muhajirin dari Makkah. 

Adapun jika terjadi pertikaian di antara umat Islam, maka Allah Swt. memerintahkan untuk mendamaikan keduanya dengan mencari solusi sesuai dengan syariat Allah Swt. dan rasul-Nya.

Ukhuwwah islamiyyah  merupakan konsekuensi dari iman. Hendaknya seorang muslim memiliki hati yang bersih dan menghindari sifat hasad ataupun iri terhadap kesuksesan orang lain. Sebaliknya harus merasa senang dan bahagia atas keberhasilan dan kesuksesan yang dicapai saudaranya. Kualitas iman yang dimiliki seorang muslim akan berdampak pada sikap dan perilaku sosial sesama muslim, misalnya tumbuhnya sikap tasamuh yaitu toleran dengan saling memahami, saling menghormati, saling menghargai dalam perbedaan, selama perbedaan tersebut masih bersifat furu’.

Persaudaraan (ukhuwwah) harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sikap dan perilaku yang merupakan perwujudan persaudaraan (ukhuwwah) di antaranya bersikap lemah lembut, kasih sayang, rendah hati dan saling mencintai. 

Hikmah Persaudaraan

Di antara hikmah menjaga persaudaraan (ukhuwwah) yaitu:

1) menumbuhkan sikap saling memahami dan saling pengertian di antara sesama

2)  menumbuhkan sikap saling tolong-menolong

3)  menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai akan melahirkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa

4)  menimbulkan tenggang rasa dan tidak menzhalimi antara sesama.

5)  tercipta dan terjalinnya solidaritas yang kuat antara sesama muslim

6)  terbentuknya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.


Persaudaraan sesama mukmin akan semakin kokoh dan terjaga dengan melakukan hal sebagai berikut:

1)  menghargai dan menghormati perbedaan pendapat dan pandangan hidup

2)  saling membantu apabila ada seorang muslim sedang mendapatkan kesulitan hidup

3)  mencintai sesama muslim hanya karena Allah Swt.

4)  memperlakukan saudaranya dengan baik, seperti memperlakukan dirinya

Sekian untuk materi hari ini, untuk penugasan silahkan cek Google Kelas masing-masing.

selanjutnya silahkan melakukan absen dengan menggunakan link di bawah ini

ABSEN KELAS X IPS 1

ABSEN KELAS X MIPA 1

ABSEN KELAS X MIPA 2

ABSEN KELAS X MIPA 3

ABSEN KELAS X MIPA 4

ABSEN KELAS X MIPA 5

ABSEN KELAS X MIPA 6

ABSEN KELAS X MIPA 7








Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUMBER HUKUM ISLAM (AL-QUR'AN)

KELAS XI : BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN DAN ETOS KERJA